Beranda Ekonomi Bisnis Bertahan Hidup Dengan Membuat Gerabah

Bertahan Hidup Dengan Membuat Gerabah

BERBAGI

Nganjuk, AGTVnews.com – Desa Gemenggeng Kecamatan Bagor Nganjuk, sejak puluhan tahun lalu sudah dikenal sebagai daerah pengrajin gerabah tradisional. Meskipun jumlah pengrajin sudah turun drastis, namun usaha kerajinan berbahan tanah liat ini tetap menjadi penghasilan utama warga di daerah tersebut.

Mujiati, Sriatun dan Tarsi misalnya, mereka sudah puluhan tahun bergelut dengan tanah. Mereka setiap hari membuat gerabah berupa klawon, ulekan, kuali, cowek, kendil, alat dapur, atau padasan, wajan dan lain-lain.

Sehari Mujiati mampu membuat wajan hingga 15 buah, setelah kering, wajan dijual mentah kepada penampung seharga Rp 2 ribu per buah. Bila membuat kendil seharinya hanya mampu sebanyak 8 hingga 10 buah karena bentuknya beda serta lebih rumit. Untuk kendil setiap buahnya dijual mentah atau sebelum dibakar seharga Rp 4 ribu.

Proses pembakaran dilakukan seminggu sekali setelah barang mentah terkumpul dari para perajin gerabah. Dari Mujiati pula para pedagang keliling mengambil gerabah untuk dijual ke pasar-pasar dan sejumlah konsumen lainnya.

| Baca Juga:  Bayi Perempuan Ditemukan Tergeletak di Tong Sampah

Menurut para perajin gerabah, mereka tidak mau beralih ke pembuatan keramik, karena mahalnya tanah liat sehingga butuh modal besar, juga pembuatannya butuh waktu lama.

Sejumlah pengrajin mengaku pernah berupaya meningkatkan taraf hidup dengan membuat gerabah jenis keramik seperti halnya di luar daerah, namun malah bangkrut. Karena keramik yang dibuatnya terus gagal akibat banyak yang pecah.

Untuk membakar keramik, dibutuhkan waktu sehari semalam, dengan perapian yang cukup panas menggunakan kayu bakar. Sedangkan gerabah bisa dibakar hanya dengan waktu beberapa jam saja dan pembakarannya pun bisa dengan sekam dibungkus jerami.(*)

Reporter: Bagus Jatikusumo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here