Beranda Ekonomi Bisnis Menjelang Ramadhan, Pesanan Batik Tenun Ikat Meningkat

Menjelang Ramadhan, Pesanan Batik Tenun Ikat Meningkat

BERBAGI

AGTVNEWS.com – Menjelang Bulan Ramadhan tahun 2017 ini, sentra tenun ikat Kelurahan Bandar Kota Kediri dibanjiri pesanan dari masyarakat. Pesanan terbanyak berupa baju muslim dan sarung.

Peningkatan pesanan membuat pemilik kerajinan tenun ikat Kediri kewalahan dan akhirnya menambah jumlah alat tenun serta karyawan produksi.

Salah satu pemilik kerajinan tenun ikat Kediri, Yusna Qurotaayuni, mengaku pihaknya harus menambah 5 alat mesin tenun serta operatornya agar dapat memenuhi pesanan tepat waktu. Pemesanan paling banyak adalah baju-baju untuk acara halal bi halal, baju keluarga serta sarung.

Pemilik kerajinan ini mengaku mendapat kenaikan omset sekitar 25 persen dari total omset perbulan. Biasanya pemilik kerajinan bisa mendapat omset sekitar Rp 200 juta per bulan, namun menjelang ramadhan ini omset naik menjadi Rp 250 juta.

| Baca Juga:  Anoman Ikuti Upacara Kemerdekaan di Kediri

Pemandangan yang sama juga terlihat di galeri milik Eko Hariyanto yang ada di Jalan Agus Salim Kelurahan Bandar Kediri. Hingga saat ini saja dia sudah menerima pesanan lebih 160 potong sarung berasal dari sejumlah toko di Kota Kediri hingga Madura untuk ramadan mendatang.

Saat ini Eko dan 15 orang karyawannya terus meningkatkan jumlah produksi dengan menambah jam kerja hingga pukul 20.00 WIB. Padahal pada hari biasa jam kerja karyawan hanya sampai sore hari saja.

Sarung tenun buatan Eko ini dibandrol mulai Rp 130 ribu hingga Rp 350 ribu per potong disesuaikan dengan kelasnya. Kelas tertinggi dari bahan sutra yang paling diburu oleh sebagian besar konsumen.

Sarung tenun goyor memiliki perbedaan tekstur dengan sarung buatan pabrik pada umumnya. Bahannya yang lembuh dan dingin saat dikenakan menjadi alasan masyarakat banyak menggunakan sarung yang ini.

| Baca Juga:  Kerajinan Barongan Pelestari Budaya Kediri

Sama halnya dengan kain tenun ikat, sarung tenun goyor khas Kediri ini pun dibuat menggunakan cara tradisional. Perajin memanfaatkan alat tenun bukan mesin (ATBM) untuk menenun benang menjadi kain sarung. Di sentra produksi kain tenun ikat ini, sedikitnya 40 perajin yang menekuni usaha ini.

Namun dari naiknya omset tersebut, pengrajin tenun ikat Kediri menyayangkan adanya kenaikan biaya cukai dari biaya impor bahan baku yang ditetapkan Pemerintah. Dengan kenaikan cukai ini, mau tidak mau pengrajin harus menaikkan harga jual seperti halnya harga kubah masjid enamel dan galvalum. (*)

Reporter: Vicky Mahardika.