Beranda Ekonomi Bisnis Musim Penghujan, Kualitas Tembakau Menurun

Musim Penghujan, Kualitas Tembakau Menurun

BERBAGI

Tulungagung, AGTVnews.com – Datangnya musim penghujan membawa dampak terhadap tanaman tembakau. Proses pengolahan tembakau yang tergantung sinar matahari, menjadikan kualitas tanaman tembakau menurun. Kondisi ini menjadikan pelaku usaha rajangan tembakau di Desa Waung Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung Jawa Timur mengurangi kapasitas produksinya.

Turunnya kualitas tembakau ini mengakibatkan harga jual tembakau ikut turun antara Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per-kilogramnya. Proses pengeringan yang tidak sempurna menjadikan rendemen tembakau turun menjadi 15 persen. Kurangnya terik matahari menjadikan proses pengeringan membutuhkan waktu lebih lama.

Harga tembakau jenis kuningan saat ini dikisaran Rp 55 ribu hingga Rp 60 ribu rupiah perkilogram, padahal saat musim kemarau kemarin harga ini antara Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu. Sementara tembakau jenis pilesan, sebelumnya di kisaran Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu perkilogram, saat ini berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu perkilogram.

| Baca Juga:  Resmi, Bandara Di Tulungagung Batal Dibangun

Menurut salah satu pengusaha tembakau rajangan, Sutikno, kualitas tembakau ada empat yakni grade A untuk tembakau kualitas nomor satu, grade B, grade C, dan yang paling rendah grade D.

Kualitas tembakau ini ditentukan pada saat proses pengeringan, bila cuaca panas, proses pengeringan hanya membutuhkan waktu dua hari. Namun saat mendung butuh waktu yang lebih lama lagi.

“Kualitas tembakau ditentukan saat proses pengeringan. Bila pengeringan maksimal, maka hasilnya juga bagus. Namun bila seperti saat ini mendung dan hujan, maka kualitasnya akan berbeda. Warna dan rasanya juga berbeda. Itu yang membuat kualitasnya jelek. Jelek dan bagus kualitasnya biaya produksi yang dikeluarkan sama,” ujar Sutikno.

| Baca Juga:  Pindah ke Gorontalo Diberi Kebun 2 Hektar dan Jaminan Hidup

Meski tembakau rusak atau kualitas yang jelek sekalipun, tembakau ini tetap laku, namun tidak bisa menutup biaya produksi yang dikeluarkan petani. Agar tidak terlalu merugi, Sutikno mengurangi kapasitas produksinya. Bila kondisi panas, Sutikno sehari memproduksi 2 ton tembakau basah, namun saat musim penghujan hanya memproduksi 1,5 ton saja.

Reporter: Wawan Setiawan