Beranda Ekonomi Bisnis Miniatur Phinisi Nan Cantik Dari Limbah Kaca

Miniatur Phinisi Nan Cantik Dari Limbah Kaca

BERBAGI

Tulungagung, AGTVnews.com – Seorang pengrajin etalase dari aluminium dan kaca, Supriyanto, warga Desa Kaliwungu Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung Jawa Timur terpaksa banting stir membuat kerajinan miniatur perahu phinisi dan pesawat tempur, karena peminat etalase kaca semakin menurun. Kerajinan ini dibuatnya dari limbah kaca sisa dari usaha sebelumnya. Dengan tambahan lampu LED berwarna warni, kerajinan limbah kaca ini terlihat semakin cantik.

Usaha ini berawal dari lesunya usaha pembuatan etalase aluminium dan kaca yang ditekuni Supriyanto sebelumnya. Dirinya harus memikirkan agar usaha yang dirintisnya ini tidak gulung tikar dan masih tetap bisa menghasilkan . Berkat ketekunan dan ketelatenannya terciptalah kerajinan miniatur perahu phinisi yang cantik.

Menurut Supriyanto, tidak ada alat khusus yang digunakan untuk membuat kerajinan ini. Semua alat yang digunakan adalah perlengkapan membuat etalase. Limbah kaca dipotong sesuai bentuk yang diinginkan, kemudian satu persatu potongan ini disusun menggunakan lem khusus kaca.

| Baca Juga:  Kepulan Asap Kembali Muncul di Komplek Pasar Wage

“Ide ini berawal saat usaha pembuatan etalase milik saya tidak lagi berjalan. Akhirnya saya bingung mau saya bikin apa, terlebih banyak sekali sisa bahan kaca yang bentuknya tidak beraturan. Akhirnya muncul ide untuk membuat hiasan bentuk perahu dan juga pesawat tempur ini serta betuk candi-candian,” ujar Supriyanto.

Hasil miniatur kerajinan buatan Supriyanto ini agar lebih indah diberi tambahan aksesoris lampu LED. Sehinga kerlap-kerlip warga lampu semakin mempercantik hasil karya buatannya tersebut.

Hasil kerajinannya ini dijual Supriyanto dengan harga antara Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu untuk perahu Phinisi, sementara untuk pesawat tempur dan miniatur candi dijual antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.

Miniatur buatan Supriyanto masih dipasarkan di sejumlah daerah yang ada di sekitar Tulungagung seperti Malang, Kediri dan Blitar. Supriyanto mengaku belum bisa membuat kerajinan lebih banyak lagi karena adanya keterbatasan modal.(*)

Reporter : Wawan Setiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here