Beranda Wisata Hiburan Sate Cempe, Olahan Kambing Muda Penggugah Selera

Sate Cempe, Olahan Kambing Muda Penggugah Selera

BERBAGI

Tulungagung, AGTVnews.com – Sate merupakan makanan yang banyak digemari masyarakat. Olahan daging kambing berbumbu kecap tersebut selalu menggugah selera. Meski sebenarnya sate ini bisa juga dari berbagai daging lainnya, seperti ayam, bebek maupun jerohan, namun sate kambing lebih diminati masyarakat.

Tulungagung, merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan kuliner ini. Salah satu penggagas masakan sate cempe yang masih eksis hingga saat ini adalah Ashari. Laki-laki 70 tahun ini merupakan pemilik warung Muslim yang ada di Jalan Majen Sungkono Tulungagung.

Bapak 4 orang anak ini membuka warung satenya sejak tahun 1986. Awalnya sate cempe tidak mudah diterima oleh masyarakat, mengingat saat itu kuliner sejenis nasi pecel masih mendominasi. Namun berkat kerja keras dan ketekunan, perlahan-lahan sate cempe mulai mendapatkan tempat dihati masyarakat.

Sate cempe merupakan varian dari sate kambing, hanya saja umur hewan kambing yang dipakai masih sangat belia. Sate cempe memiliki ciri tekstur daging halus dan tidak berserat. Hanya saja, aroma daging kambing tidak dominan.

“Mulai buka tahun 86, dulu jalan raya ini masih sepi belum seramai sekarang. Dulu ya banyak yang maido (mengejek-red), katanya siapa yang mau beli sate. Wong sate itu dianggap makanan mahal,” ujar kakek yang akrab disapa pak Hari ini.

Ashari menuturkan, untuk memastikan memperoleh anak kambing dengan daging yang berkualitas dan tidak ulet, dirinya harus turun langsung ke pasar hewan. Dirinya masih mempercayai instingnya dalam memilih cempe yang akan disembelih untuk dijadikan sate.

Kambing muda dengan rentang usia sekitar 1 tahun menjadi buruannya, sebab jika sudah melebihi usia tersebut dikhawatirkan rasa sate yang dihasilkan tidak lagi sama seperti sate cempe yang selama ini digemari pelanggan.

| Baca Juga:  Klaim Jasa Raharja Selama Arus Mudik 2017 Meningkat 100 Persen

“Ada penjual kambing yang nawarin mau ngirim setiap kali perlu, tapi saya mending nyari sendiri ke pasar hewan. Asalkan sehat ndak cacat dan bersih, terus masih cempe gitu. Ya itu yang dicari,” lanjutnya.

Ashari tidak menerapkan resep khusus untuk menghasilkan sate yang maknyus. Dirinya mempercayakan resep olahan bumbu dan gulai kepada istrinya. Baginya selama bumbunya masih segar hal itu sudah cukup menghasilkan olahan yang nikmat.

Bumbu kecap menjadi identitas tersendiri, sebab di wilayah lain seperti Kediri dan Trenggalek acap kali ditemukan sate dengan bumbu kacang, mirip olahan sate ayam.

“Ya asal bumbunya cukup, bawang putih dan kecapnya merata terus bakarnya juga matang, insyaallah enak maknyus,” jawabnya sambil terkekeh-kekeh.

Kendati telah memiliki pelanggan setia, namun kakek dari 3 orang cucu ini mulai mengembangkan bisnisnya ke arah penyediaan catering dengan basis masakan olah daging kambing muda. Tidak hanya dalam bentuk sate, kini masakan dalam bentuk daging lapis, krengsengan dan kambung guling pun dicobanya.

“Kalau sekarang warungnya masih ada, tapi sudah ndak kober buka karena lebih fokus ke cateringnya, menerima pesanannya. Saya yakin pelanggan ndak akan lari rejeki kan sudah ada yang ngatur,” jelas Ashari.

Ashari bukan satu-satunya pemilik warung sate cempe di Tulungagung. Kini mulai banyak bermunculan warung-warung lain di sekitaran wilayah kota maupun di beberapa wilayah pinggiran. Bahkan mereka mulai membuka kedainya sejak pagi hingga malam hari.(*)

Reporter: Firmanto Imansyah
Editor  : Linda Kusuma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here