Beranda Wisata Hiburan Ranu Gumbolo, Danau Pegunungan Surganya Pemancing dan Swafoto

Ranu Gumbolo, Danau Pegunungan Surganya Pemancing dan Swafoto

BERBAGI
tulungagung hari ini

AGTVnews.com – Ranu Gumbolo merupakan destinasi wisata alam yang terletak di Desa Mulyosari Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung. Bila sekilas dilihat, nama tempat wisata ini hampir sama dengan danau yang ada di Gunung Semeru, Ranu Kumbolo. Keduanya memang memiliki kesamaan, yakni danau yang berada di atas pegunungan.

Bila ditilik namanya, Ranu dalam bahasa jawa kuno disebut danau, sementara Gumbolo merupakan pegunungan. Namun keduanya memiliki perbedaan. Ranu kumbolo merapak danau alami, sementara ranu Gumbolo adalah danau hasil luapan waduk wonorejo, dengan sejumlah spot buatan yang indah.

Ranu Gumbolo awalnya adalah surga para pemancing ikan nila. Namun belakangan ini Ranu Gumbolo mulai terkenal di jagat dunia maya sebagai lokasi selfie yang indah. Akhirnya Pemkab Tulungagung meresmikan tempat ini sebagai wana wisata pada tahun 2016.

Sejarah Nama Ranu Gumbolo

Salah satu warga sekitar Ranu Gumbolo, Haryati menuturkan, awalnya lokasi ini dikenal dengan nama njumok. Biasanya bila musim tanam padi maupun jagung, warga akan menggunakan njumok untuk lokasi tanam. Lokasi ini merupakan milik Perhutani yang digunakan warga setempat. Bila musim kemarau, lahan ini sangat subur dan air luapan waduk tidak akan masuk.

“Dulu itu sesepuh desa menamai tempat ini sebagai njumok. Saya juga tidak tahu arti kata njumok itu, tapi yang jelas pasti ada artinya. Wong orang dulu ngasih nama kan tidak mungkin asal bunyi,” ucap Haryati.

Haryati menambahkan, seperti pemberian nama Waduk Wonorejo juga, nama wono berarti hutan dan rejo artinya ramai. “Khan beneran sekarang jadi hutan yang ramai atau wonorejo,” imbuhnya.

Menurut Haryati, awal dikenalnya lokasi Ranu Gumbolo bermula dari banyaknya anak muda yang selfie di lokasi sekitar. Bahkan dirinya sering dibuntuti anak-anak muda itu sampai ke kebun jagung yang dia tanami, hanya untuk selfie.

Karena mulai banyak yang datang, akhirnya tercetus sebutan baru yakni Ranu Gumbolo, idenya pun berasal dari beberapa orang yang sedang nongkrong di warung kopi.

| Baca Juga:  Wisata Rumah Hobbit Jadi Pilihan yang Takut Pantai

“Sekitar tahun 2015 kalo tidak salah, anak-anak sekolah tanya lokasi Ranu Gumbolo. Awalnya saya tidak paham, lalu saya tunjukkan ladang jagung,” ucap Haryati.

Ternyata benar lokasi yang dicari adalah njumok. Sejak saat itu mulai banyak yang datang untuk jalan-jalan. Ketika pertama kali hits pada tahun 2016, wana wisata ini didatangi banyak sekali pengunjung dari dalam maupun luar kota. Bahkan jalan menuju ke lokasi ini sempat mengalami macet saat hari libur datang.

“Dulu itu saya sekali buka warung, Sehari bisa dapat Rp 3 juta, tapi sekarang dapet Rp 700 ribu saja di hari Minggu,” lanjut Hariyati. Dulunya di lokasi ini, ada 13 lapak penjual makanan, namun sekarang tinggal 4 lapak saja yang masih bertahan.

Meski jumlah pengunjung wana wisata ini jauh berkurang dibanding saat hits dulu. Namun tempat ini masih menjadi tempat favorit para pemancing terlebih pada malam hari.

Rute menuju Ranu Gumbolo

Letak Ranu gumbolo tidak jauh dari pusat kota Tulungagung. Diperlukan waktu sekitar 30 menit dari pusat kota untuk menuju ke lokasi ini. Bahkan Pemkab Tulungagung telah memperbaiki jalan raya ke lokasi ini, hingga ke arah pertigaan Waduk Wonorejo. Dengan akses jalan yang sudah diperbaiki, menjadikan kendaraan roda dua dan empat bisa dengan gampang melintas.

Begitu tiba di pertigaan Waduk Wonorejo, pengunjung tinggal mengikuti papan penunjuk arah. Menuju Ranu Gumbolo sekitar 750 meter lagi. Setelah berjalan sekitar 500 meter mulai ditemukan jalan yang rusak. Meski rusak namun jalan ini bisa dilalui, asalkan berhati-hati terlebih saat hujan turun.

Pengunjung yang akan berwisata di Ranu Gumbolo tidak dikenakan tiket. Cukup hanya membayar biaya parkir sebesar Rp 5000 saja. Tidak ada tiket masuk di area ini. Dengan bayar parkir, anda bisa puas menikmati wisata alam di atas pegunungan.

Ranu Gumbolo dan Kisah Mistisnya

Sebuah tempat wisata, selalu ada cerita mistis dibaliknya. Pun Ranu Gumbolo ini juga dikenal memiliki satu tempat yang angker. Tempat di sekitar batu gombong yang ada di dekat pintu keluar merupakan tempat yang dikenal angker.

Haryati menceritakan pengalaman enam pemancing yang datang dari Kediri. Para pemancing ini datang saat kondisi Ranu Gumbolo sudah gelap dan 2 warung kopi yang saat itu ada sudah tutup. Termasuk dirinya yang sudah pulang sejak sore hari karena kebetulan pada saat itu hujan deras.

Keesokan harinya Hariyati dan satu lagi temannya sesama pemilik warung datang lebih pagi dari biasanya, dan heran dengan salah satu anggota rombongan pemancing yang tidur di dalam mobil di dekat pintu masuk.

“Lho mas, sampean kok berani tidur disitu?” tanya Hariyati. Ternyata pemancing tersebut juga heran dengan keberadaan Haryati dan temannya.

“Nanya gini, ora lo bu sampean ki opo ndak ngantuk. Kawit mambengi dodolan kopi warunge panggah buka. Opo ora kademen? Gek mambengi yo ora sandalan, aku wes turu sampean kok ra turu-turu,” kata Hariyati menirukan.

Hariyati terkejut dan berusaha meyakinkan para pemancing tersebut, jika tidak ada yang jualan kopi sampai malam hari. Namun para pemancing juga berusaha meyakinkan Haryati dengan menunjukkan 6 gelas bekas kopi yang mereka beli semalam. Bahkan pemancing tersebut menunjukkan uang 12 ribu kembalian yang diberikannya kepada penjual kopi.

Haryati menceritakan, kata para tetua desa tempat tersebut ada penunggu makhluk gaib. Namun selama pengunjung berperilaku sopan dan menjaga diri maka tidak akan diganggu. “Asalkan kita selalu menjaga sikap, ya tidak ada apa-apa,” pungkas Hariyati.(*)

Reporter: Firmanto Imansyah
Editor  : Linda Kusuma