Beranda Peristiwa Aktifitas Gempa Meningkat, BPBD Tulungagung Amati Kondisi Pantai

Aktifitas Gempa Meningkat, BPBD Tulungagung Amati Kondisi Pantai

BERBAGI
petugas BPBD Tulungagung tengah mengamati aktifitas gempa yang terjadi.(foto:firmanto imansyah)

AGTVnews.com – Meningkatnya frekuensi gempa di Indonesia beberapa hari terakhir, menjadi perhatian khusus Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung. Hal ini karena secara geografis posisi Tulungagung dekat dengan pantai.

Terlebih Pulau Jawa yang dikelilingi tiga lempeng besar dunia dan masih terus aktif hingga saat ini. Lempeng besar dunia tersebut yakni lempeng Indo Austrlias, Euro Asia dan Pasifik, sementara bagian paling selatan kabupaten Tulungagung berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.

Menurut Kasi Kesiapsiagaan BPBD Tulungagung, Anindito, pasca gempa yang disusul dengan tsunami di Palu sulawesi tengah yang lalu, frekwensi gempa yang terdata oleh alat milik BMKG terus meningkat. Peningkatan yang terjadi, dari yang sekali dalam sehari kini menjadi 5 kali dalam sehari.

| Baca Juga:  Gempa Guncang Kediri Pusat Kegempaan di Darat

“Kekuatannya bermacam-macam, namun frekuensinya memang meningkat dibandingkan sebelumnya,” Ucap Anindito, Senin (15/10/2018).

|video rekomendasi untuk anda:

 
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=7xYxPgkRxVI?showinfo=0&w=480&h=270]
 

 

11 pantai yang terus diamati tersebut diantaranya, pantai Klatak, Bayem, gemah, Sidem, Popoh, Dlodo, Gerangan. Kedungtumpang, Molang, Sine dan pantai Brumbun.

Untuk memantau, BPBD Tulungagung memanfaatkan Early Warning System (EWS) milik BMKG yang langsung mengabarkan dengan detail skala gempa, kekuatan dan lokasi gempa.

Sampai saat ini BPBD Tulungagung belum memiliki alat pendeteksi khusus tsunami yang terpasang di pantai-pantai yang ada di wilayah Tulungagung. Namun satu alat Tage Gauge yang berfungsi mengukur ketinggian ombak telah dipasang di Pantai Popoh.

| Baca Juga:  Gempa Situbondo Terasa Hingga Blitar, Masyarakat Diimbau Tak Terpancing Kabar Hoax

“Kita memang belum ada alat khusus untuk memantau tsunami, sehingga informasi dari BMKG dan kewaspadaan masyarakat sangat diperlukan,” lanjutnya.

Dito menegaskan, BMKG selalu memberikan informasi apabila ada gempa yang disusul atau berpotensi tsunami. Namun untuk meminimalkan korban akibat tsunami, masyarakat juga diminta untuk mengenali tanda-tanda tsunami.

Mulai dari air laut yang surut hingga ratusan meter dari bibir pantai, kemudian bau anyir dan suara gemuruh biasanya mengikuti air yang surut tersebut serta hewan- hewan laut yang berhamburan.

“iniformasi dari BMKG biasanya 5 menit usai gempa tapi masyarakat bisa melihat tanda tandanya dan langsung mencari perlindungan saat mengetahui tanda tersebut,” pungkasnya. (*)

Reporter: Firmanto Imansyah
Editor: Linda Kusuma