Beranda Peristiwa Terlambat Ditangani, Satu Lagi Penderita DBD di Blitar Meninggal Dunia

Terlambat Ditangani, Satu Lagi Penderita DBD di Blitar Meninggal Dunia

BERBAGI
Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Krisnha Yekti.(foto: Ana Alana)

AGTVnews.com – Satu lagi penderita Demam Berdarah (DB) di Kabupaten Blitar meninggal dunia, karena lambat ditangani. Sebelumnya tercatat enam penderita DBD meninggal dunia. Dengan adanya tambahan satu kasus ini, hingga November 2018 tercatat tujuh penderita DB dinyatakan meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Krisnha Yekti mengatakan, sama dengan kasus sebelumnya, penderita DB yang meninggal juga berusia di bawah 10 tahun. Pasien tercatat sebagai warga Kecamatan Gandusari.

“Jadi sebelumnya ada enam penderita dinyatakan meninggal dunia. Terhitung sejak Januari hingga Oktober 2018. Kemudian, bulan ini kami menemukan satu lagi kasus meninggal dunia,” ungkapKrisnha Yekti, Selasa (6/11/2018).

Krisnha menuturkan, meninggalnya pasien DB ini, akibat kurangnya pengetahuan warga terkait penanganan pasien DB. Dari hasil evaluasi diketahui, kebanyakan penderita terlambat mendapatkan penanganan medis. Mereka, baru dibawa ke fasilitas kesehatan setelah kondisinya parah.

| Baca Juga:  Kasus DBD Meningkat, 5 Korban Meninggal Dunia

|video rekomendasi untuk anda:

 

 

“Kebanyakan ketika dibawa ke fasilitas kesehatan kondisinya sudah parah. Sehingga tidak bisa diselamatkan. Untuk itu kami mengimbau agar para orang tua peka dengan kondisi kesehatan anak-anaknya,” imbuhnya.

Untuk mengantisipasi kejadian luar biasa (KLB) kasus demam berdarah, Dinkes Kabupaten Blitar menggalakkan gerakan juru pemantau jentik (Jumantik). Hal ini terbukti efektif menekan angka penyebaran demam berdarah.

“Pemberantasan sarang nyamuk yang dilakukan tiap rumah, merupakan cara paling efektif dan efisien. Karena penanganan seperti fogging hanya membunuh nyamuk dewasa bukan jentik nyamuk. Jentik nyamuk hanya bisa diberantas dengan PSN,” pungkasnya.(*)

Reporter: Ana Alana
Editor: Linda Kusuma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here