Beranda Hukum Kriminal Sidang Putusan Pengeroyokan Oleh Warga PSHT di Tulungagung Digelar

Sidang Putusan Pengeroyokan Oleh Warga PSHT di Tulungagung Digelar

BERBAGI

AGTVnews.com – Pengadilan Negeri Tulungagung menggelar sidang putusan kasus pengeroyokan warga Desa Suruhan Lor Kecamatan Bandung Kabupaten Tulungagung, Senin (21/1/2019).

Kasus pengeroyokan tersebut dilakukan oleh warga PSHT terhadap warga Desa Suruhan Lor Kecamatan Bandung kabupaten Tulungagung. Dalam kejadian tersebut beberapa warga desa Suruhan Lor mengalami luka. Sejumlah sepeda motor dibakar dan puluhan rumah dirusak tersebut.

Dari kejadian tersebut, petugas mengamankan 4 orang. Tiga orang sudah mendapatkan vonis dari majelis hakim, sementara satu pelaku yakni Gusti Angga Kusuma (19 tahun) warga desa Babadan kecamatan Karangrejo Tulungagung, baru menjalani sidang putusan atas perkaranya pada Senin (21/1/2019) ini.

Humas Pengadilan Negeri Tulungagung, Yuri Andriansyah mengatakan, dalam perkara tersebut terdakwa didakwa melanggar ayat 1 pasal 170 KUHP.

|video rekomendasi untuk anda:

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Didik Kurniawan menuntut terdakwa hukuman 1 tahun 8 bulan penjara karena terbukti melakukan pengeroyokan hingga mengakibatkan korban mengalami luka-luka.

Meski demikian, ternyata Majelis Hakim yang diketuai Johanes Hehamoni memberikan vonis lebih ringan dari tuntutan JPU, yakni 1 tahun 3 bulan penjara.

| Baca Juga:  Pemuda di Tulungagung Dianiaya Gerombolan Berpakaian Hitam

“Karena terdakwa ini bukan aktor, serta terdakwa itu tidak pernah membuat kegaduhan atau terlibat kegaduhan sebelumnya, itu yang meringankan terdakwa” ujar Yuri.

Hal-hal yang meringankan terdakwa yakni usia yang masih muda dan masih bisa dibina. Selain itu rekam jejak terdakwa yang belum pernah terlibat dalam tindak pidana maupun tindak kriminal.

Fakta lain yang meringankan yakni, terdakwa bukan merupakan aktor intelektual dalam kasus ini serta perilaku terdakwa selama persidangan yang sangat kooperatif.

Dengan kondisi tersebut Yuri berharap terdakwa menerima vonis ini bukan sebagai hukuman atas kesalahannya namun sebagai upaya pembinaan atas perbuatan yang dilakukannya. Harapannya terdakwa tidak mengulangi perbuatan serupa di kemudian hari.

“Terdakwa tadi sudah diberi kesempatan untuk menanggapi vonis. Bisa pikir-pikir, bisa memilih opsi lain. Tapi terdakwa langsung menerima putusan tersebut,” imbuhnya.

| Baca Juga:  Ratusan Pendekar PSHT Unjuk Rasa di Markas Polsek

Sementara itu ditemui di tempat terpisah, kuasa hukum terdakwa, Ahmad Yaini mengaku seharusnya hakim bisa memutuskan vonis yang lebih ringan dari 1 tahun 3 bulan.

“Harusnya hukumannya bisa lebih ringan dari yang divoniskan, banyak fakta persidangan yang bisa meringankan terdakwa. Mulai dari tidak terlibatnya terdakwa sebagai aktor utama hingga adanya upaya porvokasi dari pihak lain yang melempari rombongan terdakwa saat menuju ke Trenggalek untuk menghadiri acara sah sahan warga PSHT,” ucap Yaini.

Yaini menambahkan, apalagi keterangan 2 orang saksi meringankan, yang tidak melihat terdakwa melakukan penganiayaan kepada korban, terdakwa juga bukan pelaku utama dan hanya ikut ikutan.

“Terdakwa itu hanya ikut-ikutan, dia bukan aktor tapi terdakwa sudah menerima ya sudah,” tuturnya.

Sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku, ketika kliennya menerima putusan majelis hakim, maka pihaknya juga menerima hal tersebut.(*)

Reporter: Firmanto Imansyah
Editor: Linda Kusuma