Beranda Hukum Kriminal Dua Gadis di Bawah Umur Jadi Korban Prostitusi Online di Blitar

Dua Gadis di Bawah Umur Jadi Korban Prostitusi Online di Blitar

BERBAGI
Mucikari prostitusi online dengan korban bocah dibawah umur di Blitar.(foto:ana alana)

AGTVnews.com – Dua gadis di bawah umur asal Kediri menjadi korban praktik prostitusi online. Praktik ini dibongkar oleh Satreskrim Polres Blitar. Kedua bocah tersebut masing-masing berusia 13 tahun dan 14 tahun. Mereka bekerja sebagai penjaga warung dan diketahui sudah putus sekolah.

Dari kasus ini, polisi mengamankan seorang mucikari atas nama Reza Satya Angga (23 tahun) warga Jalan Bromo Kelurahan Kepanjenkidul Kota Blitar. Pelaku diamankan saat mengantar kedua korban ke sebuah hotel di Kecamatan Wlingi untuk menemui calon pelanggan.

Kapolres Blitar AKBP Anissullah M Ridha mengatakan, kedua korban ditawarkan ke pelanggan melalui grup facebook.

| Baca Juga:  Polisi Temukan 11 Nama Diduga Anak Buah Mami Eko

Awalnya kedua korban ditawarkan sebagai Ladies Companion (LC) untuk menemani karaoke sekaligus di boking untuk berkencan. Jika ada yang berminat, transaksi dilanjutkan melalui inbox, berlanjut melalui chat whastapp.

|video rekomendasi untuk anda:

 
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=hOat62BzLxc?showinfo=0&w=480&h=270]

“Jadi mereka menawarkan kedua korban melalui facebook. Keduanya ditawarkan sebesar Rp 4 juta. Dengan pemesanan ini, bisa langsung menggunakan dua korban sekaligus. Namun di lapangan dibayarkan sesuai dengan kesepakatan antara mucikari dan pelangan,” ungkap AKBP Anis, Jumat (8/3/2019).

Selain dua korban anak di bawah umur, diduga pelaku juga menawarkan korban lain dengan modus yang sama. “Kami masih mendata berapa jumlah korban yang sempat diperdagangkan oleh pelaku,” imbuhnya.

| Baca Juga:  Bocah Baru Lulus SMA Jadi Mucikari Online Mahasiswi

Selain pelaku dan dua korban gadis di bawah umur, polisi juga mengamankan barang bukti sebuah handphone milik korban dan pelaku yang digunakan untuk bertransaksi serta uang tunai sebesar Rp 3 juta.

Pelaku dijerat Pasal 88 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak, atas perubahan UU Nomor 23 tahun 2002, atau Pasal 45 ayat (1) sub Pasal 27 ayat 1 UU RI No 19 tahun 2016 tentang perubahan UU RI No 11 Tahun. Dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara. (*)

Reporter: Ana Alana
Editor: Linda Kusuma