Beranda Ekonomi Bisnis Coba-coba Batik Kontemporer, Wanita di Kediri Raih Omzet Puluhan Juta

Coba-coba Batik Kontemporer, Wanita di Kediri Raih Omzet Puluhan Juta

BERBAGI

AGTVnews.com – Batik sudah diakui sebagai budaya asli milik Indonesia. Indonesia memiliki beragam corak batik untuk masing-masing tempat dan wilayah. Salah satunya batik Kediri. Tidak hanya batik tradisional, Kediri juga memiliki batik kontemporer yang sudah terkenal.

Seorang pengusaha batik kontemporer asal Kediri, Herlin Puspita Sari mampu mendulang omset hingga ratusan juta per bulan. Siapa sangka ‘Batik Esri’ ini hanya berawal dari coba-coba.

Usaha batik di dusun Banjarejo Desa Besuk Kecamatan Gurah Kediri ini tidak hanya disuka oleh warga Kediri, namun juga banyak dipesan penyuka batik dari mancanegara diantaranya Italia, Jepang, Malaysia dan Singapura. Bahkan beberapa desainer Indonesia turut melirik batik Esri ini.

Herlin menuturkan, batik ini awalnya hanya iseng dan coba-coba saja. Saat itu ada seorang temannya dari Bali yang meminta dibuatkan kain batik. Meski tidak memiliki kemampuan membatik, namun Herlin pantang menyerah.

|simak video berita terkait:

 

Memulai usahanya, Herlin nekat menyewa pembatik dari Pekalongan untuk memproduksinya.  Namun Herlin juga tidak berdiam diri, dirinya ikut belajar membatik ke beberapa tempat seperti, Solo, Madura dan Kalimantan.

Batik Esri beda dengan batik biasa, karena teknik yang digunakan beda dengan pakem corak membatik biasanya. Batik kontemporer banyak disuka kaum muda dengan pilihan warna yang lebih beragam.

Usaha batik kontemporer ini diawali pada tahun 2003 lalu. Melalui getok tular, batik Esri mendapatkan banyak pesanan. Bahkan usaha batik ini bisa membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.

| Baca Juga:  Batik Kediri Motif Jaranan Makin Populer

Tidak sedikit juga warga yang mendapatkan ilmu melalui pelatihan yang diadakan batik Esri ini .

“Potensi usaha batik masih memiliki peluang besar di era saat ini. Banyak sekali peminat kain batik,” jelasnya saat ditemui tim liputan.

Tidak tanggung-tanggung, omset yang diterima Herlin tiap bulannya bisa mencapai Rp 150 juta. “Kalau minimal omset 50 juta, kalau rame ya sampai Rp 150 juta tergantung permintaan. Rata-rata banyak dari luar daerah juga sih”,jelasnya.

Saat ini Herlin memiliki total 20 karyawan, yang setiap harinya memproduksi batik kontemporer tersebut. Selain sudah memiliki pasar tersendiri seperti instansi-instansi, batik Esri juga di pasarkan melalui market place ataupun media sosial.

“Media online ini sangat efektif untuk saat ini. Banyak pembeli yang mengetahui produk saya dari medsos,” ujarnya.

Untuk pengerjaan, Herlin membutuhkan waktu sekitar 1 bulan untuk 1 kain batik tulis. Namun proses pengerjaan ini tergantung dari tingkat kesulitan motif dengan pewarnaannya menggunakan pewarna sintetis.

Sementara kisaran harga yang dipatok Herlin juga bervariasi, antara Rp 70 ribu hingga Rp 10 juta. Harga ini tergantung motif, corak dan kesulitannya. Bahan kain batik yang disediakan Herlin juga beragam diantaranya Sutra, silk jersey, chifon, organza dan juga kain tenun.

Dengan beragam jenis kain ini, pembeli hanya tinggal memilih saja, motif apa dan jenis kainnya.(*)

Reporter: Wiji Guntoro
Editor: Linda Kusuma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here