Beranda Hukum Kriminal Pembeli Simpan Sabu di Helm, Pengedar Jaringan Lapas Madiun Tertangkap

Pembeli Simpan Sabu di Helm, Pengedar Jaringan Lapas Madiun Tertangkap

BERBAGI
pembeli dan pengedar sabu-sabu jaringan lapas Madiun, saat diamankan petugas BNNK Blitar. (foto:ana alana)

AGTVnews.com – Pengedar sabu-sabu jaringan lapas Madiun berhasil dibekuk BNNK Blitar. Pengedar tersebut berinisial AG (36 tahun) warga Slorok Kecamatan Doko Kabupaten Blitar. AG diamankan petugas setelah pembelinya warga Kanigoro berinisial TW (37 tahun) kedapatan membawa satu poket sabu yang diselipkan di dalam helm.

Kepala BNNK Blitar AKBP Agustianto mengatakan, dari penangkapan TW inilah petugas kemudian menelusuri dari mana asal barang haram tersebut. Tak butuh waktu lama petugas berhasil menciduk AG dengan barang bukti sembilan poket sabu-sabu, satu alat hisap dan uang tunai sebesar Rp 400 ribu.

“TW kami amankan di Jalan Raya Kecamatan Wlingi. Saat kami geledah TW mencoba mengelabuhi petugas dengan menyelipkan satu poket sabu di dalam helm yang dipakainya. Dari penangkapan TW ini kemudian kami kembangkan hingga berhasil mengamankan seorang pengedar berinisial AG,” jelas AKBP Agustianto, Kamis (27/6/2019).

| Baca Juga:  Lapas Tulungagung Gagalkan Upaya Penyelundupan Narkoba

Kedua pengedar dan pemakai ini mengaku mendapatkan sabu-sabu dari lapas Madiun. Barang haram ini didapat dari seorang bandar bernama Aceh yang saat ini masih mendekam sebagai narapidana di dalam lapas Madiun.

|video rekomendasi untuk anda:

 

“Muaranya dari Lapas Madiun. Dari seorang bandar bernama Aceh yang saat ini masih berstatus narapidana Lapas Madiun,” imbuhnya.

AG mengaku mengenal Aceh saat sama-sama menjadi narapidana di lapas Madiun. AG bebas pada tahun 2017 lalu atas kasus yang sama.

| Baca Juga:  Polres Blitar Amankan Belasan Pengedar Narkoba dan Ribuan Pil Koplo

Meski sudah keluar, AG mengaku masih instens melakukan komunikasi dengan Aceh. AG sering diminta Aceh untuk menjadi kurir ke berbagai daerah diantaranya Malang, Kediri, Blitar dan Tulungagung.

“Saya dibayar Rp 200 ribu sekali antar. Kalau ada yang pesen. Kadang sekali ambil sampai 50 gram,” kata AG.

Kedua pengedar yang diduga masuk jaringan antar kota ini terancam hukuman maksimal enam tahun penjara.(*)

Reporter: Ana Alana
Editor: Linda Kusuma