Beranda Peristiwa Fakta Miris 4 ABG Pelayan Warung Kopi Plus di Watulimo Trenggalek

Fakta Miris 4 ABG Pelayan Warung Kopi Plus di Watulimo Trenggalek

BERBAGI
tersangka pemilik warung kopi plus-plus diamankan petugas kepolisian polres Tulungagung. (foto:firmnato imansyah)

AGTVnews.com – Terungkapnya kasus perdagangan manusia dengan 4 ABG asal Tulungagung memunculkan beberapa fakta. Empat ABG tersebut dipekerjakan sebagai pelayan warung kopi di wilayah Watulimo Trenggalek.

Tidak hanya sekedar pelayan kopi namun mereka juga diminta untuk meladeni pelanggan yang mengajak berkaraoke bahkan meminta pelayanan seksual. Dari kasus yang diungkap Satreskrim Polres Tulungagung ini, redaksi AGTVnews.com merangkum beberapa fakta yakni:

1. Perekrutan Melalui Media Sosial

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Satreskrim Polres Tulungagung, salah satu korban NA (14 tahun) mengaku mengenal tersangka pemilik warung kopi tersebut dari media sosial.

Menurut Kasatreskrim Polres Tulungagung, AKP Hendro Triwahyono, korban NA tertarik dengan peluang kerja yang diunggah tersangka di media sosial. Pada unggahan tersebut disebutkan bayaran lumayan.

|video rekomendasi untuk anda:

 

“Jadi awalnya tersangka itu upload di media sosial, mencari pekerja di warung kopi sebagai pelayan kemudian korban tertarik dan ikut melamar” Ujarnya.

Ternyata korban tidak dijadikan pekerja di warung kopi milik tersangka, namun di warung kopi yang ada di wilayah kecamatan Watulimo kabupaten Trenggalek.

2. Pekerja Lama Ajak Temannya Untuk Jadi Pelayan Kopi Plus

Setelah menjalani pekerjaan selama 3 bulan, NA kemudian diminta untuk mencari pekerja baru yang masih temannya. Pelayanan yang diberikan di warung kopi tersebut adalah pelayanan plus-plus.

NA kemudian mengajak dua temannya AP (15 tahun ) dan WA (15 tahun). Menurut Hendro, sebenarnya NA sudah mengajak 4 orang temannya namun hanya dua yang jadi berangkat karena 2 lainnya dilarang oleh keluarganya.

| Baca Juga:  Miris, 4 ABG di Tulungagung jadi Korban Human Traficking

Wakapolres Tulungagung Kompol Ki Ide Bagus Tri. (foto:firmanto imansyah)

“Ada 4 orang yang sebenarnya diajak, tapi yang dua ini ndak boleh sama kakaknya, akhirnya ndak jadi ikut,” ucap Hendro.

Masih menurut Hendro, kendati NA juga sempat mencari korban lainnya untuk dijadikan pekerja di warung kopi yang sama namun status NA tetap saja korban, yakni korban dari tersangka Sri Lestari (35 tahun) pemilik warung kopi di Trenggalek.

Sementara itu tersangka Sri Utami (30 tahun) mengaku tidak pernah memilih ABG dibawah umur untuk bekerja di tempatnya, dirinya menerima siapa saja yang mau bekerja di warungnya.

3. Meski Diminta Berhenti, Korban Selalu Kembali Meminta Pekerjaan

Fakta ini terungkap dari pengakuan salah satu tersangka, Sri Utami (30 tahun) warga kabupaten Kediri yang sehari-hari tinggal di salah satu warung kopi di desa Tapan Kecamatan Kedungwaru.

Tersangka mengaku, tidak pernah memaksa korban NA untuk bekerja menjadi pelayan warung kopi. Bahkan dirinya mengaku NA yang datang kepadanya sambil menangis-nangis minta pekerjaan.

“Dianya itu nangis-nangis minta kerjaan terus, saya temukan sama Sri (tersangka pemilik warung kopi Trenggalek), saya ndak tau kerjaanya apa,” ucap Sri Utami.

Masih menurut Sri Utami, dirinya sudah meminta untuk NA pulang namun selalu kembali lagi. “Kalau dijemput keluarganya gitu, besoknya balik lagi, saya suruh pulang tapi balik lagi,” ujarnya. Adanya pengakuan dari tersangka ini masih didalami oleh pihak kepolisian.

| Baca Juga:  Tawarkan Teman Kencan, Wanita di Kediri Ini Diamankan

4. Upah Satu Gelas Kopi Rp 2.000

Fakta miris terungkap, para ABG pelayan warung kopi ini mendapatkan upah sebesar Rp 2.000 untuk satu gelas kopi yang dibuat. Pendapatan dari pembuat kopi perharinya tidak menentu.

Menurut tersangka Sri Lestari, dalam satu hari pendapatan pelayan abg tersebut tergantung banyaknya gelas kopi yang dibuat. “Sehari ya kadang 50, kadang 100 kopi, kadang ya cuman 10 kopi ndak mesti,” ucapnya.

Sementara untuk pelayanan seks yang diberikan kepada pelanggan warung kopi, ABG ini mendapat upah tersendiri, termasuk untuk membayar sewa bilik kepada pemilik warung.

bilik yang digunakan untuk malayani pelanggan warung kopi. (foto:firmanto imansyah)

 

Saat ini kedua tersangka dijerat dengan pasal berlapis. Wakapolres Tulungagung Kompol Ki Ide Bagus Tri mengatakan pihaknya menyiapkan pasal 2 ayat (1) jo pasal 17 Undang Undang Republik Indonesia nomer 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan manusia, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

“Ancaman maksimal 15 tahun dan denda 600 juta rupiah, karena mereka ini disangka melakukan perdagangan manusia,” tegasnya, Rabu (7/8/2019).

Wakapolres menambahkan, karena korbannya masih dibawah umur maka tersangka akan dijerat dengan pasal 17 Undang Undang nomer 21 tahun 2007 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman sepertiga dari putusan peradilan.

“Karena melibatkan anak maka kita kenakan pasal perlindungan anak,” pungkasnya. (*)

Reporter: Firmanto Imansyah
Editor: Linda Kusuma