Beranda Viral Jejak Muksa Sang Prabu Sri Aji Jayabaya

Jejak Muksa Sang Prabu Sri Aji Jayabaya

BERBAGI
Punden Pamuksan Sri Aji Jayabaya di Kediri. (foto:agtvnews.com)

AGTVnews.com – Prabu Sri Aji Jayabaya merupakan raja yang memerintah di Kerajaan Kediri pada tahun 1135-1157. Prabu Jayabaya merupakan raja besar kala itu. Bahkan ramalannya yang disebut Jangka Jayabaya hingga saat ini masih dipercaya.

Seorang raja adalah panutan bagi rakyatnya. Apapun sabda sang Raja adalah perintah bagi warganya. Pun demikian dengan Prabu Jayabaya ini. Dengan arif dan bijaksana memimpin kerajaan Kediri hingga menjadi sebuah kerajaan besar di Nusantara.

Sejarah tidak mencatat tentang kematian raja besar ini. Hanya tertulis jika Prabu Jayabaya muksa atau meghilang begitu saja. Sebuah bangunan petilasan di Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri menjadi salah satu jejak dari Prabu Jayabaya. Ditempat ini, Prabu Jayabaya menghilang.

Meski telah beratus tahun berlalu, sejumlah masyarakat masih percaya jika Prabu tersohor tersebut masih ada dan mengayomi mereka. Dengan menggelar lelaku di pamuksan tersebut mereka mengaku jika keinginannya bisa terwujud.

|video rekomendasi untuk anda:

 

Dari penelusuran redaksi AGTVnews.com, ditemukan beberapa fakta di pamuksan. Fakta tersebut diantaranya:

1. Peziarah Tetap Berlaku Sopan Seolah Menghadap Raja

Tingkah laku sopan seolah menghadap raja tetap dilakukan sejumlah peziarah yang datang ke pamuksan ini. Meski pamuksan tersebut berupa punden, namun mereka tetap harus melakukan sembah dengan menampukkan kedua tangan dan berjalan jongkak.

Saat sudah selesai pun, tidak diperbolehkan untuk berjalan membelakangi punden. Hal ini dinilai tidak sopan, berjalan membelakangi raja.

Jurukunci Pamuksan, Mbah Gabing ‘sowan’ ke Prabu Jayabaya untuk menyampaikan maksud keinginan peziarah. (foto: agtvnews.com)

Menurut jurukunci pamuksan, Mbah Gabing, adat perilaku tersebut sudah dilakukan sejak dulu. Masyarakat yang datang ke Pamuksan percaya jika gusti prabu Jayabaya masih ada. Jadi tingkah laku dan sopan santun tetap harus dijaga.

| Baca Juga:  Misteri Kediri yang Tidak Terpecahkan, Mulai Buaya Putih Hingga Ramalan Jayabaya

2. Pamuksan Sri Aji Jayabaya dibangun oleh keluarga Kraton Jogjakarta

Saat anda datang ke pamuksan ini jangan harap anda akan menemukan bangunan kuno, candi atau semacamnya. Anda akan lihat sebuah bangunan modern.

Bangunan ini semacam pendopo yang biasa digunakan para peziarah untuk lelaku. Tepat di depan pendopo ini ada sebuah bangunan yang lebih tinggi terbuat dari batu. Disinilah disebut-sebut sebagai tempat muksanya prabu besar tersebut.

Monumen yayasan kraton Jogjakarta yang melakukan pemugaran pamuksan Prabu Sri Aji Jayabaya. (foto:agtvnews.com)

Menurut juru kunci, Mbah Gabing, pamuksan ini dulunya hanya sebuah batu bata kuno yang ditumpuk. Kemudian pada tahun 1976, pamuksan ini dipugar oleh yayasan dari Kraton Jogjakarta. Alasan pemugaran ini, karena Kerajaan Kediri dianggap sebagai cikal bakal keraton Jogjakarta dan Surakarta.

3. Banyak Warga Ngalap Berkah Untuk Tujuan Tertentu

Pamuksan Sri Aji Jayabaya tidak selalu ramai oleh para peziarah. Namun pada saat-saat tertentu banyak orang yang datang untuk menyampaikan keinginan atau hajat mereka. Dengan melakukan meditasi di pamuksan ini mereka percaya harapan mereka akan terwujud.

Para peziarah ini menginap hingga berhari-hari. Mereka menjauh dari hingar-bingar kehidupan, dan hanya melakukan meditasi. Namun demikian pasti akan ada godaannya. Menurut Mbah Gabing, godaannya datang dari diri peziarah sendiri. Kalau tidak teguh pendirian, maka pasti akan gagal.

“Kalau yang laki-laki, biasanya tergoda peziarah wanita yang datang. Kalau kecantol, ya sudah, gak akan berhasil apa yang jadi keinginannya,” ucap Mbah Gabing.

| Baca Juga:  Jejak kerajaan Kediri di Lahan Urug Jaenudin

4. Ngabdi Gusti Prabu, Paring Kamulyan Dumateng Anak Putu

Ngabdi Gusti Prabu, Paring kamulyan Dumateng Anak Putu memiliki arti mengabdikan diri kepada Prabu Jayabaya bisa memberikan kemuliaan untuk kehidupan anak cucu.

Salah satu pengabdi yang ditemui reporter, Mbah Slamet asal Diwek Jombang mengaku, dirinya seringkali berlama-lama di pamuksan ini untuk mengabdi kepada Prabu Jayabaya. Dari pengalaman hidupnya, mbah Slamet mengaku selalu mendapat kemudahan dalam menghadapi permasalahannya.

“Pokoknya pasrah saja, dan percayakan kepada yang diatas. Pasti ada jalan. Suami saya dulu sakit parah, dan dikasih tahu untuk mengabdi disini, akhirnya bisa sembuh,” jelasnya.

Mbah Slamet peziarah asala Diwek Jombang yang mengabdikan diri di pamuksan Sri Aji Jayabaya. (foto:agtvnews.com)

Mbah Slamet menambahkan, setelah suaminya meninggal, dirinya lebih memilih untuk menyepi di pamuksan ini. Dia berdoa agar anak cucunya selalu mendapatkan kemuliaan dalam hidup.

5. Peziarah yang Mendapat Bunga Kantil Terwujud Keinginannya

Ini adalah cerita yang berkembang di peziarah, bagi peziarah yang mendapatkan bunga kantil di tempat pamuksan dipercaya apa yang menjadi keinginan dan cita-citanya akan terwujud.

Percaya atau tidak, nama besar Prabu Jayabaya tidak hilang oleh jaman. beratus tahun berlalu, ternyata kesaktian raja besar ini masih dipercaya dan dipegang teguh oleh masyarakat, terlebih masyarakat jawa.

 

Jejak sejarah tidak terlihat, nama besar menjadi pengingat, apa yang baik, akan selalu dikenang baik.

 

Editor: Linda Kusuma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here