Beranda Viral Sejarah Candi Penataran Lengkap Serta Pengaruh 3 Kerajaan Besar Nusantara

Sejarah Candi Penataran Lengkap Serta Pengaruh 3 Kerajaan Besar Nusantara

BERBAGI
Kompleks bangunan Candi Penataran di Desa Penataran Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. (foto: Pemkab Blitar)

AGTVnews.com – Candi Penataran atau sering juga disebut candi Palah merupakan candi besar yang ada di Jawa Timur. Candi ini terletak di Desa Penataran Kecamatan Nglegok kabupaten Blitar.

Candi penataran memiliki keunikan dibandingkan candi lain yang ada di Nusantara. Sebab pembangunannya dilakukan oleh tiga kerajaan besar pada masanya. Diawali oleh Kerajaan Kediri kemudian dilanjutkan oleh kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit.

Masing-masing kerajaan ini mempunyai ciri khas tersendiri dalam membangun candi Penataran. Lambang masing-masing kerajaan juga ada di bagian candi serta tahun pembuatan tertera pada dinding.

| simak video berita terkait:

Sejarah Candi Penataran

Candi Penataran awal mulanya dibangun oleh raja dari Kerajaan Kediri yakni Raja Srengga pada tahun 1194 M. Raja Srengga berkuasa di Kerajaan Kediri pada tahun 1190 – 1200 M. Pembangunan Candi Penataran berfungsi sebagai tempat persembahyangan umat hindu yang merupakan agama mayoritas. Corak dari bangunan awal candi ini adalah beraliran Hindu Siwaitis.

Kemudian pada tahun 1286 Masehi dibangun Candi Naga di dalam komplek Candi Penataran. Pada candi naga terlihat relief 9 orang yang menyangga naga. Naga sendiri merupakan lambang candrasengkala atau tahun 1208 Saka.

Candi Penataran tidak hanya dibangun pada masa Kerajaan Kediri, namun diteruskan pada masa pemerintahan Jayanegara, Tribuanatunggadewi dan Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit.

Dengan demikian fungsi candi megah ini tidak hanya terhenti pada masa satu kejayaan kerajaan, namun juga digunakan untuk kerajaan-kerajaan besar berikutnya yakni Singasari maupun Majapahit.

Awalnya candi penataran ini bernama candi Palah, hal ini sesuai dengan prasasti palah yang ada di bagian belakang candi. Candi ini sebagai wujud bahagia raja Srengga karena terlepas dari bencana yang memusnahkan empat penjuru.

Fungsi Candi Penataran

Awal dibangun candi penataran ini difungsikan sebagai bangunan suci untuk pemujaan Hindu. Hal ini dikuatkan dengan adanya patung Dwarapala berukuran besar di pintu masuk candi. Dua patung raksasa ini dilengkapi dengan gada. Setiap bangunan suci pada masa itu selalu dijaga oleh dwarapala ini.

Di candi ini sering diadakan upacara pemujaan. Pemujaan ini salah satunya untuk menangkal bahaya dari Gunung Kelud yang saat itu sering meletus.

Sementara itu, sebuah catatan sejarah dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca (1365), dijelaskan bahwa Raja Hayam Wuruk, yang saat itu memerintah Kerajaan Majapahit di tahun 1350 sampai 1389 M, mengunjungi Candi Penataran dalam lawatannya di daerah Jawa Timur.

Raja Hayam Wuruk berkunjung ke candi ini dengan tujuan untuk memuja Hyang Acalapat, yang merupakan perwujudan Dewa Siwa sebagai Girindra atau Raja Penguasa Gunung.

Ken Arok dari Singasari juga mendapat gelar sebagai perwujudan dari Girindra. Dimungkinkan di candi ini juga menjadi tempat persemayaman abu Ken Arok.

Pada sebuah kronik dari abad XV, disebutkan bahwa Candi Penataran merupakan tempat yang digunakan sebagai sarana belajar agama dan tempat ziarah yang ramai pengunjungnya. Kronik ini mengisahkan perjalanan seorang bangsawan Kerajaan Sunda ke Candi Penataran yang di dalam kronik itu disebut sebagai Rabut Palah.

Candi penataran ini dibangun khusus untuk memuja dewa Siwa. Hingga era kerajaan Majapahit candi ini masih digunakan untuk melaksanakan upacara keagamaan.

Struktur Bangunan Candi Penataran

Candi penataran terbagi atas 3 kompleks, yakni halaman depan, halaman tengah dan halaman belakang. Masing-masing halaman ini memiliki fungsi berbeda.

Layaknya sebuah rumah, bagian depan digunakan untuk menerima tamu. Bagian tengah lebih sakral lagi, karena merupakan bagian yang lebih privasi dan bagian belakang semakin suci bangunannya.

1. Bagian Depan

Kompleks candi bagian depan adalah Bale Agung. Bangunan ini terletak di bagian depan dan terbuat dari batu. Pada Bale Agung terdapat empat buah tangga.

Tubuh bangunan Bale Agung dilit oleh ular naga, kepala ular ini tersembul di bagian kiri dan kanan bangunan. Pada masing-masing tangga naik terdapat arca penjaga yang berupa arca mahakala.

| Baca Juga:  Penemuan Umpak Tiang Candi di Nganjuk

Di atas Bale Agung masing-masing sudutnya terdapat umpak batu. Diperkirakan umpak batu ini sebagai penumpu tiang kayu sebagai atap bangunan.

Bale Agung ini diperkirakan fungsinya untuk tempat musyawarah para pemimipin agama. Kemungkinan atap dari Bale Agung ini terbuat dari ijuk atau sirap.

Masih dibagian depan candi terdapat Pendopo Teras. Diperkirakan Pendopo Teras ini digunakan sebagai tempat untuk meletakkan sesaji dalam upacara keagamaan atau tempat peristirahatan raja dan bangsawan lainnya.

Bangunan Pendopo Teras berangka tahun 1297 Saka atau 1375 Masehi. Seperti pada Bale Agung, Pendopo Teras juga dililit teras ular yang ekornya saling berbelitan, kepalanya tersembul ke atas di antara pilar-pilar bangunan. Bangunan ini dibuat pada masa ratu Tribuana Tungga Dewi pada masa kerajaan Majapahit.

Bangunan lain di bagian depan Candi Penataran adalah Candi Angka Tahun atau juga sering disebut candi Brawijaya. Candi ini dibangun pada tahun 1291 Saka atau 1369 Masehi.

Warga sering juga menyebut dengan candi Ganesha karena di dalam bilik candi ini terdapat patung Dewa Ganesha duduk diatas Padmasana. Candi ini dibangun pada era kerajaan Majapahit. Hal ini dikuatkan dengan adanya relief Surya Majapahit pada bagian atas kepala cungkup.

2. Bagian Tengah

Memasuki komplek kedua, dibatasi dengan adanya dinding bata kuno. Diperkirakan ini merupakan bangunan dinding namun telah runtuh. Ada dua Dwarapala dengan ukuran lebih kecil dibanding Dwarapala di bagian pintu depan.

Pada bagian dalam halaman tengah ini terdapat Candi Naga. Candi ini hanya tersisa bagian kaki dan badan saja. Disebut Candi Naga karena sekeliling bangunan tubuh candi dililit naga yang disangga 9 tokoh. Tokoh-tokoh ini memakai pakaian megah seolah sebagai batara dari kayangan.

Gambar naga disangga 9 orang ini mengisyaratkan sebuah candrasengkala ”Naga muluk sinangga jalma” yang berarti angka tahun 1208 Saka atau 1286 M. Masa ini merupakan pemerintahan dari raja Kertanegara dari kerajaan Singasari.

3. Bagian Belakang

Pada bagian belakang komplek candi terdapat bangunan candi utama dan juga sebuah patirtan. Tidak hanya itu, terdapat juga sebuah prasasti Palah yang menyebutkan asal muasal Candi Penataran dan fungsinya.

Candi utama ini terletak di tanah yang lebih tinggi dari yang lainnya. Hal ini semakin menguatkan jika candi utama ini dianggap yang paling sakral.

Candi induk ini terdiri dari tiga teras tersusun. Pada masing-masing sisi tangga terdapat dua arca mahakala, yang pada lapiknya terdapat angka tahun 1269 Saka atau 1347 M.

Sekeliling dinding candi pada teras pertama terdapat relief cerita Ramayana. Untuk dapat membacanya harus dimulai dari sudut barat laut. Pada teras kedua sekeliling dinding dipenuhi pahatan relief cerita Kresnayana yang alurnya dapat diikuti secara pradaksina atau searah jarum jam.

Sedangkan di teras ketiga berupa relief naga dan singa bersayap. Teras ketiga bentuknya hampir bujur sangkar, dinding-dindingnya berpahatkan arca singa bersayap dan naga bersayap. kepalanya sedikit mendongak ke depan sedangkan singa bersayap kaki belakangnya dalam posisi berjongkok sedang kaki depan diangkat ke atas.

Pada sisi sebelah barat daya halaman belakang terdapat dua buah sisa bangunan. Bangunan ini berupa candi kecil dari batu yang kondisinya telah runtuh.

Diperkirakan candi kecil ini yang mula-mula dibuat bersamaan dengan prasasti Palah melalui upacara pratistha.

Prasasti Palah ada di dalam bagian belakang Candi Penataran. Prasasti ini berupa sebuah lingga batu. Pada prasasti ini diceritakan tujuan dan fungsi pembangunan Candi Palah tersebut. Tidak itu saja, prasasti tersebut juga menggambarkan rasa bahagia dari Raja Srengga.

Dalam area komplek percandian juga terdapat sebuah kolam berangka tahun 1337 Saka atau 1415 Masehi yang terletak di belakang candi sebelah tenggara dekat aliran sungai. Tahun yang terpahat pada kolam ini merupakan tahun termuda, dari catatan-catatan yang ditemukan.

“Menjaga dan melestarikan warisan budaya nenek moyang tidak semudah membalikkan tangan. Terlebih jika harus menghalau tangan-tangan usil yang akan merusak keindahan warisan ini”

Relief Candi Penataran

Relief yang digunakan pada candi di kompleks candi Penataran sangat berbeda dengan relief candi pada umumnya. Relief ini menggambarkan sosok manusia yang sangat mirip dengan penampakan pada wayang kulit. Beberapa cerita yang digambarkan pada relief komplek candi ini diantaranya:

1. Bubhuksah dan Gagang Aking

Cerita Bubhuksah dan Gagang Aking ini terukir di sepanjang dinding pendopo teras. Pada relief ini diceritakan Bhuksa digambarkan sebagai sesosok makhluk yang berbadan besar, suka memakan apapun, ikhlas dan tidak pernah tidur. Sedangkan Gagang aking, kurus kering, suka berpuasa dan juga suka tidur. Suatu saat Dewa Siwa menjelma menjadi macan putih guna menguji kedua orang tersebut.

Gagang Aking menjawab, ”saya orang yang kurus, jangan makan saya tetapi makanlah teman saya yang gemuk”. Sementara si Bhuksa ”silakan makanlah tubuh saya”. Dalam ujian tersebut Bhuksa lulus dan ia kemudian masuk Surga. Hikmah yang bisa dipetik dari kisah tersebut yakni manusia harus ikhlas dalam menjalani hidup ini.

2. Sri Tanjung

Kisah Sri Tanjung ini juga terdapat di pendopo teras. Sri Tanjung berkisah tentang Raden Sidapaksa yang mengabdi kepada Raja Sulakrama di Negeri Sindurejo. Sidapaksa diutus mencari obat oleh raja kepada kakeknya Bhagawan Tamba Petra.

Ditempat ini Sidapaksa justru menjalin cinta dengan Sri Tanjung. Setelah menjadi istrinya, Sri Tanjung diboyong ke Sindurejo. Namun ternyata, Raja Sulakrama justru tergila-gila dengan Sri Tanjung, sehingga mencari daya agar bisa memisahkannya dengan Sidapaksa.

Sidapaksa lantas diutus ke Sorga, dengan membawa surat yang isinya pembawa surat akan menyerang Sorga. Sidapakas bisa mencapai sorga atas bantuan selendang warisan ayah Sri Tanjung yakni Raden Sudamala.

Di sorga Sidapaksa justru dihajar para dewa. Namun akhirnya dengan menyebut leluhurnya Pandawa dia dibebaskan dan diberi berkah.

Sepeninggal Sidapaksa, Sri Tanjung dipaksa oleh Sulakrama dan Sri Tanjung menolak. Mendadak datang Sidapaksa dan Sri Tanjung difitnah mengajak raja berzinah. Akhirnya dengan garang Sidapaksa membunuh Sri Tanjung. Namun Sri Tanjung dihidupkan kembali oleh para dewa. Sidapaksa pun diharuskan membunuh Raja Sulakrama dan dalam peperangan dia berhasil.

3. Ramayana dan Kresnayana

Pada dinding Candi Utama terukir relief Ramayana dengan tokoh Rama dan Shinta, dan relief Kresnayana dengan tokoh Krisna dan Rukmini.

Kisah Kresnayana menceritakan Krisna yang menculik dan mempersunting Rukmini. Kisah Ramayana dan Kresnayana yang dipahatkan pada dinding candi Penataran ditafsirkan mirip dengan kisah Ken Arok dan Ken Dedes.

Ketokohan Ken Arok sendiri masih menjadi kontroversi antara karakter seorang penjahat yang berambisi memperbaiki keturunan setelah melihat kecantikan Ken Dedes, dan membunuh Tunggul Ametung yang menjadi suaminya.

Ataukah Ken Arok merupakan bangsawan yang mengemban amanat dari Mpu Purwa yang merupakan ayah Ken Dedes sekaligus keturunan Mpu Sindok untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Kanjuruhan yang ditaklukkan oleh kerajaan Kediri, dengan dukungan kalangan brahmana dari kedua kerajaan.

Tiket Masuk Candi Penataran

Setelah ditemukan dan diperbaiki, candi penataran saat ini menjadi ikon wisata di kabupaten Blitar. Bahkan setiap tahun digelar kegiatan Purnama Seruling Penataran yang menghadirkan sejumlah wisatawan lokal maupun mancanegara.

Hal ini menjadi salah satu upaya untuk semakin mengenalkan kekayaan warisan bangsa ke kancah insternasional.

Untuk sebuah tempat wisata semegah candi penataran, harga tiket masuk yang diberikan terbilang sangat murah hanya sebesar Rp 3.000.

Anda yang berwisate ke tempat ini tidak perlu khawatir kelaparan, karena di sepanjang jalan tempat wisata tersedia jajanan dan makanan khas dari kabupaten Blitar.(*)

Editor: Linda Kusuma 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here