Beranda Hukum Kriminal Miris, Kasus Kekerasan Anak di Tulungagung 2019 Meningkat

Miris, Kasus Kekerasan Anak di Tulungagung 2019 Meningkat

BERBAGI
Kepala Unit UPPA Polres Tulungagung, Ipda Retno Pujiasih. (foto:firmanto imansyah)

AGTVnews.com – Kekerasan anak di wilayah Tulungagung pada tahun 2019 meningkat tajam. Dibanding jumlah kejadian pada tahun sebelumnya kasus ini meningkat 100 persen.

Dari data  Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Tulungagung, pada tahun 2018 yang lalu jumlah kasus yang ditangani UPPA  ada 50 kasus, 16 diantaranya melibatkan anak sebagai korban.

Kepala Unit UPPA Polres Tulungagung, Ipda Retno Pujiasih mengatakan hingga akhir tahun 2019 ini jumlah kasus yang ditangani UPPA  ada 52 kasus dan 32 diantaranya merupakan kasus yang melibatkan anak sebagai korban.

“32 kasus tersebut terdiri dari 14 kasus persetubuhan, 13 kasus kekerasan anak, 2 kasus pencabulan kepada anak, 1 kasus membawa lari anak, dan 1 kasus perdagangan anak. Sedangkan pada tahun sebelumnya, 16 kasus tersebut terdiri dari 10 kasus persetubuhan dibawah umur, 3 kasus kekerasan anak, 2 kasus pencabulan dan 1 kasus membawa lari anak,” jelasnya, Jumat (27/12/2019).

| Baca Juga:  Tangkap Perampas Handphone, Penjual Jagung Manis Ini Diganjar Reward

Retno menambahkan, banyak faktor yang menyebabkan peningkatan kasus kekerasan dengan korban anak. Salah satunya adalah minimnya perhatian orang tua dan keluarga, terutama untuk kasus kasus pencabulan, persetubuhan, dan kekerasan kepada anak.

“Ini diketahui dari kasus yang kami tangani. Mayoritas, pengawasan dari orang tua atau keluarga minim,” katanya.

Retno mencontohkan, persetubuhan yang terjadi beberapa waktu terakhir ini yang melibatkan pelaku ayah tiri korban hingga anak tirinya hamil sampai 8 bulan. Ironisnya, perbuatan tersebut dilakukan di dalam rumah saat kondisi rumah sepi.

| Baca Juga:  Polisi Periksa Sejumlah Saksi Terkait Akun Puji Ati

“Ada lagi kasus persetubuhan terhadap anak yang setelah ditelusuri ternyata korban sebelumnya ada permasalahan dengan keluarga,” imbuhnya.

Retno menegaskan, untuk menekan angka kekerasan pada anak diperlukan peran semua pihak. Tidak bisa dibebankan kepada aparat penegak hukum saja.

Orang tua memiliki peran untuk memantau pergaulan anak-anaknya dengan ekstra. Kemudahan anak-anak mengakses internet sering kali diiringi dengan kemudahan untuk mengakses situs-situs dewasa, sehingga memancing jiwa mereka yang masih labil untuk meniru apa yang dia lihat.

“Yang utama tetap orangtua. Ajaklah anak ngobrol santai, sesekali cek percakapan di ponselnya,” ucapnya. (*)

Reporter: Firmanto Imansyah
Editor: Linda Kusuma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here