Beranda Wisata Hiburan Jejak Pemberontakan PETA di Blitar

Jejak Pemberontakan PETA di Blitar

BERBAGI
Monumen PETA Kota Blitar

AGTVnews.com – 14 Februari menjadi tanggal istimewa di Blitar. Pada tanggal tersebut di tahun 1945 silam telah terjadi sebuah peristiwa heroik yang tercatat dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Ya, pemberontakan batalion Pembela Tanah Air (PETA) terjadi pada  hari itu. Bahkan untuk mengenang peristiwa ini, setiap tahun Pemerintah Kota Blitar selalu menggelar drama kolosal Pemberontakan PETA.

Pemberontakan tentara bentukan Jepang ini meninggalkan  beberapa jejak yang bisa kita temui hingga saat ini. Jejak apa saja yang tertinggal, ini dia rangkumannya versi Agtvnews.com.

1. Monumen PETA

Monumen ini berdiri gagah di depan bekas markas PETA. Markas PETA pada saat itu, kini difungsikan untuk lembaga pendidikan.

Monumen PETA di Blitar mengalami dua kali perubahan. Pada pembuatan monumen pertama, diwujudkan sosok Soedancho Supriyadi berseragam Jepang, membawa senjata laras panjang dan diujungnya dilengkapi bayonet terhunus.

Patung Supriyadi awalnya sebagai monumen peta pertama. (sumber: internet via petatempatwisatadotcom)

Berseragam tentara Jepang, sosok ini terlihat sangat gagah, dan menunjukkan semangat juang yang berkobar-kobar.

Pada 14 Februari 2008, wajah monumen PETA berubah total. Yang awalnya hanya digambarkan sosok Supriyadi, namun bertambah menjadi 7 tentara PETA yang memiliki andil dalam pemberontakan PETA.

| Baca Juga:  Biru Tosca Telaga Rambut Monte Bikin Adem

2. 7 Tokoh Pemberontakan PETA di Blitar

Selama ini kita mengenal Soedancho Supriyadi sebagai tokoh pemberontakan PETA di Blitar. Pahlawan nasional ini merupakan pencetus ide pemberontakan PETA Blitar. Namun ternyata Supriyadi tidak sendirian, ada 6 tokoh tentara PETA lain yang memiliki peran mereka masing-masing.

Tujuh tokoh pahlawan PETA yang ada di dalam monumen tersebut diantaranya :

Shodancho Soeprijadi
Chudancho dr Soeryo Ismail,
Shodancho Partoharjono,
Budancho Soedarmo,
Shodancho Moeradi,
Budancho Halir Mangkoe Dijaya, dan
Budancho Soenanto.

Sudanco Partoharjono, nama salah satu jalan di Kota Blitar. (foto: anin putri)

Nama-nama mereka diabadikan oleh Pemerintah Kota Blitar untuk penamaan jalan di wilayah Kota Blitar monumen PETA.

3. Monumen Potlot

Monumen Potlot, tempat bendera Merah Putih berkibar pertama kalinya di Blitar. (foto:anin putri)

 

Monumen ini berada didalam areal Taman Makam Pahlawan (TMP) Raden Wijaya Kota Blitar. Tempat ini dulunya merupakan lapangan apel bagi para tentara PETA.

Monumen Potlot memiliki arti penting dalam sejarah pemberontakan PETA, karena di tempat inilah bendera merah putih di Kota Blitar dikibarkan pertama kali.

| Baca Juga:  Antisipasi Rabies, Puluhan Kucing Jantan di Blitar Dikebiri

Shodancho Partoharjono lah sosok yang mengibarkan bendera ini.

4. Istana Gebang

Di Istana Gebang ini, Supriyadi meminta restu Sukarno untuk melakukan pemberontakan. (sumber:internet via yukupiknikdotcom)

Istana Gebang adalah rumah orang tua Ir. Sukarno, presiden RI pertama. Rumah ini menjadi jejak tertinggal kisah pemberontak PETA. Sebelum melakukan aksi heroik nya, Supriyadi ditemani Ismail datang menemui Sukarno. Mereka meminta izin untuk melakukan pemberontakan.

Sukarno, sebenarnya ragu. Karena secara kekuatan batalion ini masih belum terukur. Terlebih pada saat tersebut Sukarno juga tengah menyiapkan untuk Kemerdekaan RI.

Meski demikian, Sukarno merestui gerakan tersebut. Akhirnya pada 14 Februari, pukul 02.30 WIB pemberontakan terjadi. Pada pukul 04.00 WIB bendera Merah Putih dikibarkan di lapangan apel.

Pemberontakan PETA Blitar berhasil diredam oleh tentara Jepang. Beberapa tentara PETA dihukum mati, ada juga yang dibebaskan. Sementara, keberadaan Supriyadi pemimpin pemberontakan sampai saat ini masih menjadi misteri.(*)

jejak sejarah yang tertinggal, menjadi sebuah kisah yang akan terus dikenang
KEMERDEKAAN BANGSA menjadi sebuah harga mati meski nyawa taruhannya

Editor: Yusuf Saputra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here