Beranda Viral Mitos Gunung Kelud yang Dipercaya Hingga Saat Ini

Mitos Gunung Kelud yang Dipercaya Hingga Saat Ini

BERBAGI
kawah kelud pasca erupsi 2014. (sumber:ist)

AGTVnews.com – Gunung Kelud merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif di Indonesia. Gunung ini berada di perbatasan tiga wilayah di Jawa Timur yakni Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang.

Gunung Kelud memiliki ketinggian 1.731 mdpl, tidak terlalu tinggi dibanding gunung lain yang ada di Kediri. Gunung Wilis tercatat memiliki ketinggian 2.563 mdpl. Namun demikian letusannya dikenal bisa meluluhlantakkan sejumlah wilayah di pulau Jawa.

Gunung ini memiliki tipe stratovulkan yakni mempunyai karakteristik letusan explosive sehingga dapat menghasilkan letusan yang sangat dasyat ketika terjadinya erupsi.

Mengutip sejumlah sumber, dari tahun 1901 hingga 2014 lalu tercatat gunung ini telah meletus lebih dari 30 kali. Bahkan letusan terakhir pada 2014 lalu, menjadikan wajah Gunung Kelud berubah.

Gunung nan cantik dan elok ini, ternyata menyimpan banyak kisah misteri yang dipercaya masyarakat hingga saat ini. Apa saja kisah tersebut, berikut rangkumannya versi AGTVnews.com

1. Kawah Gunung Kelud bukti Pengkhianatan Dewi Kilisuci kepada Lembu Suro dan Mahesa Suro

Konon katanya, kawah Gunung Kelud ini awalnya adalah sebuah sumur yang digunakan Dewi Kilisuci sebagai sayembara. Dewi Kilisuci merupakan putri dari Jenggolo Manik yang terkenal akan kecantikannya. Putri ini dilamar dua orang raja. Seorang berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro dan satunya lagu berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.

patung lembu suro yang ada di gunung kelud(sumber :ist)

Tidak ingin dipersunting mereka, akhirnya putri cantik ini membuat sayembara, yakni meminta dibuatkan dua sumur di atas puncak Gunung Kelud. Sumur yang dibuat pun harus berbeda, satu berbau amis dan lainnya berbau wangi. Pembuatan sumur ini pun berbatas waktu, hanya satu malam saja.

Singkat kisah, karena kedua raja ini adalah raja sakti, permintaan Dewi Kilisuci tersebut bisa diselesaikan keduanya. TIdak hilang akal, dewi cantik ini meminta keduanya untuk membuktikan bau sumur buatan mereka. Masuklah kedua raja sakti ini kedalam sumur.

| Baca Juga:  Terus Berbenah, Gunung Kelud Semakin Mempesona

| simak video berita terkait:

Pada saat itulah, Dewi Kilisuci meminta prajuritnya untuk menimbun raja tersebut dengan batu. Akhirnya Lembu Suro dan Mahesa Suro mati tertimbun di dalam sumur. Namun sebelum mati, Lembu Suro sempat bersumpah akan membalas dendam.

ÓYoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung.

(Orang Kediri nantinya akan mendapakan pembalasan berlipat-lipat dari aku. Kediri akan jadi sungai, Blitar rata dengan tanah dan Tulungagung akan menjadi bendungan).

Mitos ini masih dipercaya masyarakat hingga saat ini. Jadi jika Gunung Kelud meletus, itu pertanda Lembu Suro tengah membalaskan dendam dengan meminta tumbal.

2.Keris Mpu Gandring Dipercaya Terkubur di Kawah Gunung Kelud

Raja besar Majapahit, Raja Hayam Wuruk dikisahkan mengubur keris sakti milik kerajaan Singasari yakni keris Mpu Gandring. Keris ini dipercaya memiliki aura jahat dan menimbulkan perang saudara.

Agar pertumpahan darah ini terhenti, Hayam Wuruk memberangus keris tersebut. Mitos ini tetap dipercaya warga. Tidak sedikit yang mencoba mencari keris ini, baik sekedar pembuktian atau untuk kepentingan pribadi.

3.Wage Keramat

Wage adalah salah satu nama pasaran hari dalam penanggalan Jawa. Penanggalan Wage dianggap keramat, karena Gunung Kelud meletus selalu tepat pada pasaran wage.

Enam tahun lalu (13/2/2014) Gunung Kelud erupsi pada malam hari. Berdasarkan penanggalan biasa hari itu masih terhitung Kamis Kliwon, namun bagi hitungan Jawa sudah masuk di hari Jumat dengan pasaran Wage.

Erupsi kelud pada tahun 2014. (sumber:ist)

Apakah memang ada hubungan khusus antara letusan ini dengan pasaran hari di penanggalan Jawa? Yang jelas mitos ini masih dipegang warga lereng Kelud sampai sekarang.

4. Letusan periodik dan Jalur Lahar Dingin

Dari beberapa catatan yang ada, diketahui periode letusan gunung Kelud bisa dihitung. Gunung ini memiliki periode letusan sekitar 15 tahunan. Dari catatan pertama yang ada, gunung ini meletus pada 1901, 1919, 1951, 1966, 1990, 2007, 2014.

| Baca Juga:  5 Fakta Letusan Gunung Kelud 2014 yang Sulit Dilupakan

Perubahan periodik ini tejadi akibat adanya sumbatan pada kawah gunung Kelud. Erupsi pada tahun 2007  membuat kawah tertutup material dan muncul ‘anak’ Gunung Kelud.

Sumbatan ini mengakibatkan banyak material yang ‘terkungkung’ sehingga menjadikan energi yang besar saat meletus. Tingkat letusan Gunung Kelud diketahui berbanding lurus dengan volume sumbatan.

lelehan lahar dingin pada letusan kelud tahun 1919. (sumber :ist)

Puncak Gunung Kelud diketahui memiliki danau kawah. Saat terjadi letusan, air kawah akan menjadi lahar dingin ini tidak kalah berbahayanya. Airnya akan menyapu apapun yang dilewatinya, seperti banjir bandang.

Konon katanya, jika akan terjadi lahar dingin, maka jalur yang akan dilewati muncul seorang laki-laki berjubah hitam, yang akan memperingatkan warga agar menepi dari jalur lahar ini. Cerita ini masih dipercaya masyarakat hingga saat ini.

5. Pembangunan Sodeta Aliran Lahar Dilakukan Sejak Jaman Kerajaan

Gunung Kelud dikenal sebagai gunung api aktif yang memiliki ledakan berbahaya. Bahkan pasca letusan gunung ini, sejumlah catatan menuliskan, upaya pemerintah pada saat itu untuk mengelola lontaran lava atau lahar yang terjadi.

Pada jaman kerajaan kuno, ditemukan sebuah catatan adanya pembuatan sodetan atau terusan kali untuk mengalirkan lahar. Catatan ini ditemukan di prasasti Harinjing, yang ditemukan di Desa Siman Kecamatan Kepung kabupate Kediri.

penampakan gunung kelud pada letusan 1901. (sumber:ist)

Dalam prasasti tertulis adanya pembangunan sodetan dari sungai Konto ke sungai Harinjing yang saat ini dikenal sebagai sungai Sarinjing. Prasasti dengan angka tahun 921 Masehi ini diperkirakan dibuat pada era pemerintahan Tulodong, pada jaman Mataram Kuno.

Itu tadi beberapa mitos Gunung Kelud yang dipercaya masyarakat secara turun temurun. Menjadi gunung berapi aktif, tidak membuat ciut nyali. Pembangunan infrastruktur terus diperbaiki, demi untuk penampilan diri lebih cantik lagi.(*)

Editor: Yusuf Saputra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here