Beranda Viral Candi Tegowangi Peninggalan Majapahit di Kediri

Candi Tegowangi Peninggalan Majapahit di Kediri

BERBAGI
Candi Tegowangi di kabupaten Kediri. (sumber:kedirikab.go.id)

AGTVnews.com – Bangunan kokoh dari batu andesit yang ada di Desa Tegowangi Kecamatan Plemahan Kabupaten Kediri ini terlihat gagah menjulang. Sesuai dengan lokasinya, candi ini disebut Candi Tegowangi.

Candi Tegowangi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran panjang dan lebar 11,2 meter. Sedangkan tinggi candi saat ini sekitar 4,35 meter.

Candi ini merupakan bangunan peninggalan Kerajaan Majapahit, sebuah kerajaan besar Nusantara yang berpusat di Jawa Timur. Sayangnya bangunan megah ini hanya tersisa pada bagian kaki dan tubuh candi saja.

Tidak ada gambaran utuh candi ini sebelumnya. Diduga candi ini roboh terkubur lava letusan gunung Kelud, yang membuat bangunan menjadi hancur.

Sejarah Candi Tegowangi

Candi Tegowangi merupakan bangunan suci sebagai tempat  pendharmaan atau tempat pemuliaan. Hal ini tertuang dalam Kitab Pararaton.

Disebutkan Bhre Matahun Kapisan yang merupakan suami Bhre Lasem Kapisan dan diberi nama Kusumapura didharmakan di tempat ini. Bhre Matahun merupakan sepupu dari Hayamwuruk dan menjadi keluarga kerajaan.

Dalam Kitab Negarakertagama dituliskan, Bhre Matahun Kapisan wafat pada tahun 1388. Dua belas tahun kemudian, pada tahun 1400 didirikan pendharmaannya. Pendharmaan yang dilakukan ini sesuai kebiasaan yang berlaku dalam agama Siwa Buddha. Pendirian pendharmaan dilakukan dengan upacara Srada, saat Prabu Hayamwuruk yang bergelar Sri Rajasanagara berkuasa.

Bangunan candi Tegowangi yang terlihat gagah. (sumber: instagram)

Pendharmaan Bhre Matahun dilakukan di Keling sesuai dengan wasiatnya. Tempat ini merupakan lokasi menghilangnya Dang Hyang Smaranatha dan Dang Hyang Panawasikan. Dua orang inilah yang telah menyembuhkan sakit Bhre Matahun Kapisan.

Dulu semasa Bhre Matahun Kapisan masih hidup, dia pernah mendapat petaka karena sebuah penyakit yang hampir tidak bisa disembuhkan. Kalau tidak mendapat pertolongan dari Dang Hyang Smaranatha dan Dang Hyang Panawasikan, usianya tidak akan panjang.

Dang Hyang Smaranatha dan Dang Hyang Panawasikan menghilang semenjak Perang Bubat terjadi di tahun 1357.

Struktur Bangunan Candi Tegowangi

Candi Tegowangi memiliki keunikan pada struktur bangunannya. Candi ini menghadap ke barat dengan pondasi bangunan terbuat dari bata. Sementara batur kaki dan sebagian tubuh candi yang tersisa terbuat dari batu andesit.

| Baca Juga:  Bangun Plengsengan, Warga Kediri Temukan Gapura Kuno di Aliran Sungai Lahar

Pada bagian kaki candi berlipit dan berhias. Tiap sisi kaki candi ditemukan tiga panil tegak. Panil ini dihiasi raksasa yang duduk jongkok sementara kedua tangan diangkat ke atas seolah-olah mendukung bangunan candi.

Di atas sisi kaki terdapat tonjolan-tonjolan berukir melingkari kaki candi dan di atas tonjolan tersebut terdapat sisi genta yang berhias.

Sementara itu pada bagian tubuh candi, di tengah-tengahnya terdapat pilar polos yang menjadi penghubung antara kaki dan badan candi. Pilar polos ini terdapat pada setiap sisinya.

ukiran raksasa yang seolah menyangga tubuh candi. Diatasnya dihias dengan ukiran genta. (sumber: instagram)

Di sekeliling tubuh candi dihiasi relief cerita Sudamala yang berjumlah 14 panil. Panil ini terbagi atas 3 panil di sisi utara, 8 panil di sisi barat dan 3 panil sisi selatan.

Pada tubuh candi terdapat yoni dengan ceret (pancuran) berbentuk naga di dalam sebuah bilik.

Relief Candi Tegowangi

Tubuh candi Tegowangi dihiasi dengan relief cerita kidung Sudamala. Kidung Sudamala merupakan bentuk pengruwatan atau pensucian. Kisah ini dianalogikan seperti pensucian pada diri Bhre Maratun Kapisan yang berhasil sembuh dari sakitnya.

Cerita Relief Kidung Sudamala

Kidung Sudamala berkisah tentang pensucian Dewi Durga dalam bentuk jelek dan jahat menjadi Dewi Uma dalam bentuk baik. Pensucian ini dilakukan oleh Sadewa anak bungsu dari Pandawa.

Kisah dimulai saat Kunti menghadap kepada Dewi Durga di kuburan Setra Gandamayu. Kunti meminta pertolongan Dewi Durga untuk keselamatan para Pandawa yang tengah bertarung dalam perang Baratayuda.

Kunti khawatir akan keselamatan kelima putranya itu. Terlebih Kurawa dibantu oleh dua raksasa sakti Kalantaka dan Kalanjaya. Permintaan Kunti disanggupi oleh Dewi Durga, namun dengan syarat, Sadewa harus diberikan kepada Dewi Durga.

Kunti menolak hal ini, namun akhirnya disetujui. Persetujuan dilakukan setelah tubuh Kunti dirasuki oleh Kalika. Singkat kisah, akhirnya Pandawa berhasil selamat, dan akhirnya Durga meminta Sadewa meruwat dirinya.

| Baca Juga:  Sejarah Candi Surowono, Peninggalan Kerajaan Majapahit di Kediri

Ruwatan dilakukan oleh Bhatara Guru yang kala itu merasuki tubuh Sadewa. Ruwatan berhasil dan dewi Durga kembali menjadi sosok cantik sebagai dewi Uma atau Parwati.

Sebagai ucapan terimakasih, Sadewa akhirnya dinikahkan dengan anak pendeta Tambrapetra. Kidung Sudamala ini bisa dibaca dengan cara praswaya atau berlawan dengan arah jarum jam.

guratan kidung Sudamala di beberapa sisi tubuh candi. Diduga bagian ini belum selesai, karena masih ada bagian sisi yang masih polos. (sumber: instagram)

Meski demikian, diduga kidung yang dipahatkan ini belum selesai. Ada sebagian dari dinding candi yang masih polos dan tidak memiliki relief. Diperkirakan pahatan kidung ini masih belum terselesaikan. Bagian dinding utara masih terlihat polos, sementara bagian barat belum sepenuhnya terpahat.

Kawasan Candi Tegowangi diperkirakan merupakan sebuah bangunan komplek, tidak hanya terdapat satu candi inti namun juga terdapat bangunan candi pendamping atau perwara. Sayangnya bangunan ini tidal lagi terlihat utuh dan hanya seperti tumpukan batu.

Meski bangunan tidak terlihat utuh, namun lokasi candi terkesan sangat bersih dan rapi. Di sekeliling candi terdapat sekitar 800 patahan batuan yang merupakan bagian dari candi ini. Patahan batuan ini ditata dan diberi tanda.

Candi Tegowangi merupakan sebuah bangunan kompleks dengan adanya candi batur atau perwara. (sumber: instagram)

Candi Hindu

Di halaman candi Tegowangi terdapat beberapa arca. Arca tersebut diantaranya Parwati Ardhanari, Garuda berbadan manusia dan beberapa sisa candi di bagian tenggara area situs ini.

Dari arca-arca yang ditemukan dan menurut bentuk bangunannya, candi ini berlatar belakang agama Hindu.

Tidak selamanya jelek akan menjadi buruk dan terbuang.

Sisi baik dan indah tetap akan menjadi pemenang.

Secuil kisah terpetik dari Candi Tegowangi, peradaban besar dan sebuah pensucian diri ada di jaman ini. Tak selamanya yang jelek menjadi jelek, namun sisi baik dan indah ternyata tetap menjadi yang utama mencapai nirwana.(*)

Editor: Linda Kusuma