Beranda Ekonomi Bisnis Difatwa Haram, Seperti Apa Cara Kerja Bisnis Auto Gajian?

Difatwa Haram, Seperti Apa Cara Kerja Bisnis Auto Gajian?

BERBAGI
auto gajian

AGTVnews.com – Auto Gajian belakangan marak dibicarakan. Auto Gajian diklaim memiliki sistem yang sangat menguntungkan bagi anggota yang ada di dalamnya. Hanya dalam waktu singkat, anggota komunitas ini bisa mendapatkan uang tunai Rp 150 juta dari Rp 1,5 juta yang disetor. Sangat Menggiurkan.

Jika sudah mencapai Rp 150 juta ini, maka anggota dianggap sudah finish. Auto Gajian merupakan program keuangan yang digagas oleh perkumpulan “Urun Berkah Sejahtera”. Program ini sebagai jalan untuk mengatasi masalah keuangan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Auto Gajian menerapkan prinsip sedekah untuk mendapatkan keuntungan. Ajakan ini ternyata bisa menghipnotis masyarakat. Ada beberapa tingkatan dalam Auto Gajian. Tingkatan ini terbagi berdasarkan tiket masuk yang diinginkan. Dari masing-masing tiket masuk ini, akan ditentukan besarnya sedekah anggotanya.

Sistem Kerja Auto Gajian

Auto gajian memiliki beberapa tingkatan dengan tiket masuk dan nilai sedekah yang berbeda-beda. Meski demikian komunitas ini mengklaim mereka bukan Multi Level Marketing (MLM) yang diharuskan mencari mitra. Bukan pula bisnis investasi, karena tidak ada barang atau benda yang diperdagangkan.

Anggota hanya diwajibkan transfer uang sedekah ke nomor rekening sponsor. Sponsor ini adalah orang yang bergabung lebih dulu. Pada masing-masing tingkatan, ada biaya upgrade ke tingkat berikutnya hingga mencapai nilai akhir Rp 150 juta.

Setoran awal anggota auto gajian sebesar Rp 1,5 juta. Nilai ini terbagi untuk daftar tiket sebesar Rp 100 ribu, tiket upgrade Rp 100 ribu, sumbangan gotong royong Rp 800 ribu dan komisi sponsor Rp 500 ribu.

1. Kelas Silver

Dalam kelas silver, anggota akan menerima sumbangan sebesar 3 x Rp 800 ribu. Sumbangan ini diperoleh dari anggota lain yang mendaftar setelahnya.

Setelah mendapatkan sumbangan penuh (3 x Rp 800 ribu = Rp 2,4 juta), maka anggota harus upgrade level ke tingkat gold sebesar Rp 100 ribu. Selain itu anggota juga harus membayar 4 tiket auto sultan sebesar Rp 400 ribu.

2. Kelas Gold

Untuk kelas gold, anggota diminta sumbangan sebesar Rp 2 juta. Di level ini, anggota akan mendapatkan sumbangan 4 x Rp 2 juta. Sama dengan di level silver, setelah sumbangan terpenuhi (Rp 8 juta) maka anggota diharuskan untuk naik ke level berikutnya yakni level platinum.

| Baca Juga:  Silaturahim Idul Fitri 1438 H dan Pengajian AT-Ta'awun Pimpinan Daerah Muhamadiyah Kota Kediri

3. Kelas Platinum

Di kelas platinum sumbangan yang diwajibkan adalah sebesar 6 juta. Di level ini, anggota akan mendapatkan sumbangan atau sedekah 5 x Rp 6 juta. Jika sumbangan sudah terpenuhi (Rp 30 juta) maka masih ada syarat dan ketentuan untuk mencapai level diamond.

4. kelas Diamond

Di level diamond, bisa disebut sebagai akhir atau finish. Di level ini anggota akan mendapatkan sedekah sebesar Rp 150 juta. Sumbangan di level ini adalah Rp 25 juta. Sebelumnya anggota juga harus membeli 5 tiket upgrade plan A ke diamond. Kemudian anggota harus menyumbang 5 silver manual dan ditambah 5 tiket A dengan total nilai Rp 4,5 juta.

Di level diamond, anggota akan mendapat sedekah 6 x Rp 25 juta. Total yang didapat 150 juta.

Sistem bisnis Auto Gajian ini kerap disebut money game. Sebab masing-masing anggota tidak perlu mitra serta tidak ada barang yang dijual. Dengan iming-iming uang ratusan juta, pasti akan banyak yang tergiur.

Tidak Memiliki Kantor Jelas, Anggota Merasa Diuntungkan

Salah satu peserta komunitas, NN mengaku tidak pernah mendapat masalah selama 5 bulan mengikuti komunitas ini. Dirinya justru merasa diuntungkan. Katanya, peserta Auto Gajian di Tulungagung saat ini mencapai 30 ribu lebih. “Ini saya sudah balik modal, malah sudah dapat untung juga,” jelas NN.

Meski mengaku sudah mendapat untung, namun NN tidak mengatakan berapa sedekah yang sudah dikeluarkannya. NN menjelaskan, sistem yang ada di Auto Gajian sangat jelas dan menguntungkan. “Kantor ndak ada, ini kan bukan investasi online, kita ini komunitas sedekah,” terangnya.

Auto Gajian Difatwa Haram

Sistem dan skema sedekah ala Auto Gajian kemudian dibahas dalam Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PCNU Tulungagung pada 4 Juli 2020 yang lalu. Dari pembahasan ini dipastikan sedekah ala Auto Gajian masuk kategori haram. Fatawa ini muncul setelah dilihat dari fiqih, sistem yang dijalankan mengandung tipu daya atau qurur.

| Baca Juga:  Bunga Rosela Lereng Gunung Wilis Jadi Bisnis Andalan Kembali
KH Muhson Hamdani, Rois Syuriyah PCNU Tulungagung. (foto: maman firmansyah)

Rois Syuriyah PCNU Tulungagung, KH Muhson Hamdani mengatakan, dalam membahas masalah ini LBM tidak ingin gegabah. LBM mengundang pihak Auto Gajian untuk dimintai keterangan sebagai narasumber dan Perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Kita sudah mengundang pihak Auto Gajian sebagai narasumber walaupun yang hadir bukan pucuk pimpinanya. Untuk OJK juga kita undang, namun karena pandemi hanya mengirimkan surat berisi status entitas. Auto Gajian tidak memiliki izin melakukan penawaran investasi,” ujarnya.

Pembahasan yang dilakukan LBM di tingkat cabang ini juga menghadirkan LBM PWNU Jawa Timur dan PBNU.

Muhson menjelaskan, kendati menggunakan embel-embel ikhlas berbagi, namun pihaknya melihat Auto Gajian merupakan komunitas bisnis. Komunitas ini berorientasi kepada keuntungan.

“Artinya kalau diniatkan sedekah, harusnya tidak mengharap kembalian yang lebih besar. Hal ini berbeda dengan yang ditawarkan Auto Gajian,” jelasnya.

Catut Pihak Kepolisian Demi Branding

Dalam beberapa unggahannya di media sosial, Auto Gajian memposting beberapa anggota kepolisian dari Resort Tulungagung yang diklaim telah menjadi anggota. Dalam postingan ini disebut, jika Auto Gajian merupakan sistem investasi yang aman sebab ada polisi yang ikut bergabung.

Kapolres Tulungagung, AKBP Eva Guna Pandia mengatakan, sampai saat ini pihaknya memang belum menerima laporan dari masyarakat mengenai penipuan maupun kerugian yang disebabkan oleh skema sedekah ala Auto Gajian.

Namun pihaknya mengakui telah menerima tembusan surat dari OJK mengenai status entitas bisnis yang tengah viral tersebut.

“Kalau laporan belum ada, tapi memang benar ada surat OJK mengenai status entitas Auto Gajian. Harapannya masyarakat bisa lebih berhati-hati dalam berinvestasi sehingga tidak menjadi korban investasi bodong,” ucapnya.

Meski banyak sekali korban terkait investasi bodong, namun cara mudah mendapatkan uang ternyata masih saja membius masyarakat. Masyarakat berharap dari uang selembar bisa menjadi segepok, tanpa perlu peras keringat.

Waspada dan berhati-hati terhadap yang instan dan mudah, menjadi salah satu cara terhindar dari investasi bodong maupun penipuan.(*)

Reporter: Maman Firmansyah
Editor : Linda Kusuma