Beranda Peristiwa Kisah Nenek Moah Blitar: Renta, Sebatang Kara dan Tinggal di Belantara

Kisah Nenek Moah Blitar: Renta, Sebatang Kara dan Tinggal di Belantara

BERBAGI
Mbah Moah warga Dusun Dawung Desa Pagerwojo Kecamatan kesamben Kabupaten Blitar hidup sebatangkara di tengah hutan. (foto: tim liputan)

AGTVnews.com – Siapa sangka, ada seorang nenek tua yang sebatang kara hidup di tengah hutan di wilayah kabupaten Blitar. Ya, nenek Moah, panggilan wanita berusia 70 tahun ini. Selama berpuluh-puluh tahun dirinya hidup sebatang kara di tengah hutan di wilayah Dusun Dawung Desa Pagerwojo Kecamatan kesamben Kabupaten Blitar.

Meski hidup serba kekurangan, nenek ini ternyata sama sekali tidak tersentuh bantuan dari pemerintah. Untuk menopang kebutuhan sehari-hari, dirinya mengumpulkan kayu hutan yang dijualnya untuk kayu bakar.

Keberadaan Mbah Moah baru diketahui saat adanya pandemi Corona. Pihak kepolisian dan desa melakukan pendataan pemberian bantuan bagi warga terdampak. Ternyata jauh dari perkampungan dan di tengah hutan, diketahui ada seorang warga yang hidup sebatang kara.

| simak video berita ini:

Bila malam menjelang, Mbah Moah sudah terbiasa berteman dengan gelap. Gubug reyotnya yang tak berdinding, sama sekali tidak memiliki penerangan. Jangankan listrik, lampu tempel pun tidak dimilikinya.

| Baca Juga:  Kemarau Terus Berlangsung, BPBD Blitar Droping Air Hingga Akhir November

Bila pagi menjelang, mungkin Mbah Moah baru bisa merasakan sapaan cahaya penerang. Pun demikian, kala terik menyengat, mbah Moah harus bersiap untuk sedikit kepanasan. Atap tempat tinggal Mbah Moah sudah berlubang disana-sini.

Kondisi ini akan semakin parah bila musim hujan datang. Mbah Moah hanya akan menekuk tubuh rentanya, diatas lincak bambu tanpa alas, untuk sekadar menghangatkan diri. Terpaan hujan sesekali akan mengenai kulit keriputnya. Tapi kondisi ini dilalui mbah Moah dengan tegar.

Mbah Moah mengaku, hidup di tempat tersebut sejak dirinya kecil. Dirinya terbiasa untuk hidup sendiri dan tanpa ada yang menemani. “Pun kawit bayi teng ngriki. Nggeh ngaten niki. (sudah sejak kecil disini. Ya sudah seperti ini-red),” jelas Mbah Moah.

| Baca Juga:  Waspada Corona, Bupati Blitar Akan Jalani Cek Kesehatan

Mbah Moah mengaku sama sekali belum pernah mendapat bantuan dari pihak manapun.

Diketahui Karena Pandemi Covid-19

Sementara itu, pihak desa yang mengetahui kondisi mbah Moah, langsung melakukan upaya penggalangan dana. Mereka berusaha untuk membantu kondisi mbah Moah untuk bisa tinggal di tempat yang lebih layak.

Kepala Desa Pagerwojo, Mujiadi mengaku, sama sekali tidak mengetahui keberadaan mbah Moah. Dirinya baru menjabat sebagai kepala desa di akhir tahun 2019 lalu. “Warga bersama tiga pilar bergotong royong membantu membangun rumah bagi mbah Moah. Dengan bantuan ini, diharapkan mbah Moah bisa tinggal di tempat yang lebih layak,” jelasnya.

Warga berharap, pemerintah daerah lebih perhatian kepada warganya. Mungkin saja masih ada warga lain, yang hidup jauh dan terasing dari perkampungan, sehingga luput dari perhatian.(*)

Reporter: Tim Liputan
Editor : Linda Kusuma