Beranda Wisata Hiburan 5 Wisata Religi Paling Sakral di Kediri

5 Wisata Religi Paling Sakral di Kediri

BERBAGI
masjid agung kota kediri
Wisata Religi di Kediri

AGTVnews.com – Siapa yang tidak kenal dengan Kediri, sebuah kota kecil yang memiliki sejarah panjang sejak era kerajaan. Diapit dua gunung yakni Gunung Kelud dan Gunung Wilis serta dibelah sungai Brantas, menjadikan wilayah ini subur dan makmur.

Sebagai salah satu wilayah yang sedang berkembang di Jawa Timur, menjadikan Kediri banyak dikunjungi pelaku bisnis dan mitra-mitranya.

Kediri memang tidak memiliki pantai, namun wisata jenis lainnya tidak kalah menarik untuk dkunjungi. Salah satunya adalah wisata religi yang terkenal sakral dan menentramkan hati. Berada di tempat tersebut, bisa membuat hati tenang dan menjadi semakin dekat sang Pencipta.

Berikut 5 tempat wisata religi di Kediri yang rekomended untuk dikunjungi:

1. Masjid Agung Kota Kediri

Masjid Agung Kota Kediri pertama kali didirikan pada tahun 1771. Kemudian dibangun kembali pada tahun 1928. Usia bangunan ini lebih dari 200 tahun, menjadikan sebagai salah satu tempat jujugan wisata religi.

Letak masjid ini cukup strategis tepat di jantung Kota Kediri atau di sebelah barat alun-alun Kota Kediri. Jadi sangat mudah untuk diakses karena terletak di pinggir jalan. Salah satu keistimewaannya, masjid ini dibangun di pinggir sungai Brantas.

2. Menara Asmaul Husna

Menara Asmaul Husna ini merupakan salah satu menara masjid tertinggi di Indonesia. Memiliki tinggi mencapai 99 meter dengan kubah berlapis emas seberat 60 kg. Tinggi 99 meter ini, sesuai dengan 99 Asmaul Husna.

Bentuk bangunan menara, dibuat seperti bentuk bangunan menara masjid di Masjidil Haram di Mekkah.

| simak video berita terkait:

Menara ini terletak di Pondok Pesantren Wali Barokah yang berada di Kelurahan Burengan Kota Kediri. Menara ini terdiri dari 23 lantai dan 464 anak tangga. Menara ini dibangun sejak tahun 2000 dan selesai pada tahun 2003. Meski demikian, bangunan baru diresmikan oleh Jusuf Kalla pada tahun 2009.

Bagi kalian yang ingin melihat secara langsung keselurahan Kota Kediri, tinggal naik ke menara ini. Semua penjuru kota Kediri akan terlihat dari atas menara.

| Baca Juga:  Serunya Menyusuri Sungai Dalam Goa Ngerong

3. Makam Mbah Wasil

Makam Syeh Sulaiman Syamsudin al-Wasil atau mbah Wasil merupakan salah satu tempat wisata religi yang cukup dikenal di Kota Kediri. Peziarah yang datang ke tempat ini tidak hanya dari kota sekitar Kediri, namun juga datang dari kota-kota besar lain. Bahkan ada yang datang dari luar negeri seperti Malaysia dan Brunei Darusallam.

Makam Mbah Wasil terletak di tengah kota yang tidak jauh dari Jalan Doho Kota Kediri. Lokasinya sangat dekat dengan Stasiun Kota Kediri.

Makam mbah Wasil ini berada di komplek masjid Setono Gedong. Memasuki tempat ini anda akan melewati sebuah gapura kecil dan berdinding tebal. Konon katanya ini merupakan sebuah gapura candi. Saat ini Setono Gedong telah ditetapkan sebagai lokasi cagar budaya oleh pemerintah.

Awalnya Setono Gedong merupakan tempat peribadatan untuk agama Budha pada masa kerajaan Kediri. Hal ini didukung dengan adanya situs-situs arca.

Mbah Wasil dimungkinkan masuk ke Kediri pada masa Pemerintahan Kerajaan Sri Aji Joyobo, pada abad ke-10 atau 11 Masehi. Syech Wasil Syamsudin dikenal oleh masyarakat berasal dari Istambul Turki. Masyarakat memberi gelar sebagai Pangeran Mekah.

Disebut mbah Wasil, karena Syeh Syamsudin ini sering memberikan nasihat atau wasilah. Selain makam Mbah Wasil, di wisata religi Setono Gedong juga terdapat makam tokoh besar lainya diantaranya makam Wali Akba, Pangeran Sumende, Sunan Bagus, Sunan Bakul Kabul, Kembang Sostronegoro, Mbah Fatimah dan Amangkurat.

4. Gereja Merah

Gereja merah merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Terletak di Jalan KDP Slamet Kota Kediri. Di gereja Merah atau Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel juga tersimpan sebuah kitab Injil kuno dari tahun 1867. Gereja yang bercat merah ini, sangat kental dengan arsitektur bangunan Eropa.

Gereja ini juga berada di kawasan cagar budaya Kota kediri. Awalnya pada saat dibangun pada tanggal 21 Desember 1904 gereja ini berwarna putih. Namun pada tahun 1969 warnanya diganti merah dan dipertahankan hingga sekarang.

| Baca Juga:  Pjs Walikota Kediri Resmikan Taman Brantas

Gereja ini merupakan gereja tertua di Kota Kediri. Di tempat ini pemerintah Hindia-Belanda mengajarkan agama protestan di Kediri.

Gereja ini mempertahankan semua pernak pernik kelengkapan indah seperti awal dibangun. Diantaranya jendela, mimbar, hingga tangga semua masih sangat etnik dan kuno.

Injil Kuno berbahasa Belanda yang ditulis pada September 1867 saat ini tersimpan rapi dalam kotak kaca sebagai benda cagar budaya. Selain gereja merah, terdapat empat bangunan cagar budaya lain yang berada di area tersebut.

Di sebelah selatan gereja berdiri rumah kuno milik Kolonel (Pur) Soerachmad. Kolonel (Purn) Soerachmad tercatat sebagai Komandan Brigade S (Soerachmad) di Kediri sekaligus perintis pendirian Kodam se-Indonesia.

Di sebelah rumah kuno tersebut terdapat Wisma Kapolres Kediri Kota yang juga diduga kuat merupakan cagar budaya. Sementara itu berjarak 10 meter dari rumah itu, berdiri markas Kepolisian Resor Kediri Kota yang juga merupakan cagar budaya.

5. Gereja Katolik Pohsarang

Berada di lereng gunung Wilis menjadikan gereja Poh Sarang yang ada di Desa Poh Sarang Kediri memiliki suasana yang adem dan sejuk. Desain bangunan gereja juga sangat unik, memadukan sentuhan arsitektur Kolonial Belanda dan budaya Jawa.

Sebagian besar bangunan dibuat dari batu-batu sungai yang ditata dengan apik. Bentuk atapnya melengkung unik, menjadikan gereja terlihat artisitik dan menarik.

Gereja Katolik Poh Sarang dibangun pada tahun 1936. Interior gereja didominasi oleh batu berwarna kecokelatan. Pada bagian langit-langit, terdapat salib yang terbentuk dari genting kaca sehingga terlihat salib tersebut bercahaya.

Ada beberapa tempat di komplek di gereja Poh Sarang yang bisa dikunjungi diantaranya Taman Hidangan Kana, Gedung Serbaguna Emaus dan Gua Maria Pohsarang. Suasana damai di lereng gunung menjadikan gereja ini sangat sejuk dan damai.(*)

Editor: Linda Kusuma