Beranda Peristiwa Kasus Bayi Mati Terlantar Karena Ibu Corona, Pihak RS dan Keluarga Beda...

Kasus Bayi Mati Terlantar Karena Ibu Corona, Pihak RS dan Keluarga Beda Pandangan

BERBAGI
Bayu Kurniawan, orangtua bayi saat menunjukan anaknya yang meninggal saat proses persalinan. (foto aan hidayat)

AGTVnews.com – Peristiwa meninggalnya seorang bayi yang baru dilahirkan dari ibu reaktif Covid-19 di Jombang, menimbulkan polemik berkepanjangan. Pihak rumah sakit dan keluarga korban beda pandangan.

RS Pelengkap Medical Center (PMC) Jombang, tempat pasien dirawat, membantah jika tak ada penanganan dari tim medis. Direktur RS PMC, dr Galih Endradita menyebut, kematian bayi dari pasien persalinan asal Kecamatan Sumobito karena proses persalinan terlalu cepat.

”Kami sudah berupaya maksimal untuk memberikan pelayanan, mulai dari UGD sampai di ruang Darusalam (isolasi)“ ujar kepada reporter AGTVnews.com, Kamis (6/8/2020).

Menurutnya, bayi tersebut dugaan awal meninggal karena persalinan terlalu cepat. Itu diketahui dari tahapan pembukaan saat masuk IGD sampai melahirkan lebih cepat dari kebiasaan.

| Baca Juga:  2 Ibu Menyusui dan Bocah Belasan Tahun Tambah Jumlah Positif Corona di Tulungagung

Keluarga Mengeluh Penanganan Lambat

Keterangan berbeda didapat dari Bayu Kurniawan (29 tahun), suami dari Dewi Ristarahmat Hidayat (26 tahun), pasien persalinan. Menurut Bayu, kematian buah hatinya karena lambatnya penanganan tenaga medis.

Bayu menceritakan, saat proses persalinan berlangsung tak ada petugas medis yang membantu dan menolong. Bahkan saat bayi keluar hanya ada mertua mereka di ruangan.

“Hanya ditangani saat proses administrasi di IGD saja, setelah itu kami ditelantarkan,“ terang Bayu, Kamis (6/8/2020).

Bayu menduga, lambatnya pertolongan medis Karena sesaat sebelum melakukan proses persalinan, istrinya dinyatakan reaktif rapid test Covid-19. Sang istri bukannya dibawa ke ruang persalinan, melainkan diisolasi.

Pihak keluarga, lanjut Bayu, sebenarnya sudah beberapa kali menanyakan perihal penanganan persalinan istrinya. Namun hanya diminta menunggu oleh petugas jaga.

| Baca Juga:  Hasil Rapid Test PDP yang Meninggal di RSUD Ngudi Waluyo Terindikasi Positif Covid-19

Bayu masih ingat, ada salah satu dokter yang terlihat kebingunan dari balik jendela tanpa berani masuk ruang isolasi. ”Itu yang membuat saya kecewa, dibalik pintu ada beberapa perawat yang jaga namun tidak merespons,” papar Bayu.

Baru sekitar pukul 3.30 dinihari ada dua petugas yang menggunakan APD datang. Mereka kemudian memeriksa kondisi bayinya yang sudah lahir. ”Setelah diperiksa mereka bilang kalau anak saya tidak ada respon dan dinyatakan meninggal dunia,” ujarnya sedih.

Atas kejadian itu, Bayu mengaku kecewa berat dengan pelayanan di rumah sakit swasta yang terletak di Jl Juanda tersebut. ”Perasaan saya hancur,” pungkasnya.(*)

Reporter: Aan Hidayat
Editor : Yusuf Saputro