Beranda Ekonomi Bisnis Gagal Jadi Peternak, Laki-laki di Kediri Sukses Bisnis Pot Sepet

Gagal Jadi Peternak, Laki-laki di Kediri Sukses Bisnis Pot Sepet

BERBAGI
Gagal Jadi Peternak, Laki-laki di Kediri Sukses Bisnis Pot Sepet
Yuliantoro dan pot sepet hasil produksinya. (foto: linda kusuma)

AGTVnews.com – Tidak akan ada yang tahu nasib seseorang, gagal sebagai seorang peternak, laki-laki di Kabupaten Kediri ini justru sukses menjadi pengrajin pot sepet.

Sepet atau sabut kelapa, adalah limbah yang sangat gampang dijumpai di Desa Besuk Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri. Kondisi ini membuat ide dari Yuliantoro warga desa setempat mengalir. Berbekal searching dari internet, muncullah ide untuk membuat pot.

Yuliantoro mengatakan, awalnya ide membuat pot sepet ini karena kepepet. Usaha peternakan yang sebelumnya dijalankan, mengalami kerugian dan harus gulung tikar.

“Awalnya saya punya usaha ternak puyuh. Tiba-tiba habis kena wabah flu burung. Tidak hanya habis, tapi juga meninggalkan hutang ratusan juta,” ucapnya, Rabu (7/10/2020).

Dengan kondisi itu, akhirnya dia memutar otak untuk membuat usaha lain. Kemudian muncullah ide membuat pot dari sepet. “Disini banyak sekali sepet. Dan barang ini tidak ada yang memanfaatkan. Biasanya cuma dipakai untuk bahan bakar di tungku. Akhirnya saya cari-cari di internet. Kemudian kepikiran untuk membuat pot sepet,” jelasnya.

Modal Awal Hanya Ratusan Ribu

Usaha pot sepet ini dimulai Yuliantoro pada tahun 2018. Awal pembuatan, Yuliantoro memproduksi 300 buah pot dengan modal sebesar Rp 600 ribu. Ada 3 model pot yang dibuatnya kala itu, yakni model bulat, setengah bulat dan kotak.

“Awalnya saya titipkan ke teman di Malang, sebanyak 150 buah. Sementara sisanya saya bawa keliling disini ( Kediri). Ternyata satu bulan laku dan habis terjual,”jelasnya.

| Baca Juga:  Hanya Satu Tangan, Disabilitas di Blitar Ubah Limbah Kayu Jadi Miniatur Truk

Yuliantoro membuat beberapa model pot sepet, baik yang gantung maupun pot tempel. Pot tempel dibuat, untuk memenuhi permintaan pembeli yang tidak memiliki lahan luas.

Untuk model gantung, dibuat model bulat, setengah lingkaran, kotak, maupun persegi delapan. sementara untuk model tempel ada bentuk cone besar dan kecil.

Berkah Pandemi Omset Meningkat 100%

Di masa pandemi ini, Yuliantoro justru mendapatkan berkah. Omsetnya naik hingga 100% persen. Jika sebelumnya perbulan dirinya bisa mendapat omset antara Rp 40 jutaan, kini saat pandemi justru meningkat tajam.

“Pesanan banyak datang dari pekerja kantoran. Mereka banyak yang berkebun dan memesan pot sepet ini,” beber Yuliantoro.

Saat sebelum pandemi, dalam satu minggu Yuliantoro mengirimkan permintaan pot sekitar 2.000 hingga 3.000. Namun kini pesanan tersebut meningkat antara 4.000 hingga 5.000 pot setiap pekan.

Usaha yang diberi nama ‘Kawoel Sepet’ ini melayani berapapun pesanan yang diminta. Tidak ada minimal pesanan order bagi pembelinya.

Permintaan datang dari sejumlah wilayah diantaranya Ponorogo, Madiun, Malang, Surabaya hingga Banyuwangi. Sementara untuk luar provinsi diantaranya Jawa Tengah seperti Solo, Jogjakarta, Semarang, hingga Klaten.

Harga yang dibanderol untuk pot ini bervariasi tergantung tingkat kerumitannya. Untuk yang bentuk standart harganya antara Rp 8 ribu hingga Rp 15 ribu. Sementara untuk bentuk yang lebih rumit harga yang dipatokjuga lebih mahal.

| Baca Juga:  Lirik Paralon Bekas, Kontraktor Ini Kantongi Omzet Hingga 25 juta/bulan

“Untuk yang besar, harganya bisa mencapai Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. Tergantung modelyang diminta dari pembeli,”ucapnya.

Yuliantoro ingin mengembangkan kerajinan sepet ini untuk peralatan rumah tangga lainnya seperti mattras dan juga jok mobil.

“Ini sudah ada permintaan untuk membuatkan tempat tidur kesehatan dari sabut kelapa ini. Juga untuk jok mobil,” ucapnya.

Serap Tenaga Kerja Ibu-Ibu Rumah Tangga

Kini di rumahnya, yang juga dijadikan sebagai tempat produksi ‘Kawoel Sepet’, Yuliantoro mampu mempekerjakan 18 orang. Mereka berasal dari ibu-ibu rumah tangga yang ada di sekitar rumahnya.

Gagal Jadi Peternak, Laki-laki di Kediri Sukses Bisnis Pot Sepet
sejumlah ibu rumah tangga disekitar ‘kawoel sepet’ sebagai tenaga kerja. (foto: linda kusuma)

Para pekerja ini bisa mengerjakan garapan mereka di rumah masing-masing. Upah yang diterima adalah berdasarkan banyaknya pot yang dihasilkan. Rata-rata satu hari mereka bisa menghasilkan 30 hingga 40 pot dengan model bulat dan setengah lingkaran.

Salah satu pekerja, Nuning, menuturkan, dari upah yang diterimanya dirinya bisa membantu perekonomian keluarga.

“Suami saya bekerja disawah. Jadi kalau uang sawah, nanti kembalinya ya ke sawah. Dengan kerja sambilan ini, ada uang untuk kebutuhan sehari-hari,” ucapnya.

Pekerjaan membuat pot ini dilakoninya disel-sela kegiatan utamanya sebagai ibu rumah tangga. Setelah pekerjaan rumah selesai, kemudian dirinya mengerjakan garapan pot tersebut. Untuk satu bulan upah yang diterimanya sebesar 1 jutaan. Upah ini akan semakin bertambah bila pesanan yang diterima semakin banyak pula. (*)

Advetorial Dinas Kominfo Kabupaten Kediri