Beranda Ekonomi Bisnis Kripik Debog, dari Bahan Terbuang Hasilkan Pundi Uang

Kripik Debog, dari Bahan Terbuang Hasilkan Pundi Uang

BERBAGI
Lilik Rahayu, pencetus ide keripik debog memamerkan produk olahannya. Debog pisang yang hambar berhasil disulap jadi makanan gurih. (foto: linda kusuma)

AGTVnews.com – Pernahkah terlintas di benak anda, jika pelepah pisang (debog, jawa) bisa dijadikan sebagai makan camilan yang memiliki rasa gurih dan crunchy? Ya, biasanya pelepah pisang ini hanya berakhir di tempat pembuangan sampah.

Namun nyatanya, di tangan Lilik Rahayu, pelepah pisang ini justru menjadi olahan yang gurih dan krispi. Wanita warga Desa Doko Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri ini, membuat pelepah pisang menjadi olahan kripik dengan berbagai macam varian rasa.

Ditemui di rumahnya, wanita 41 tahun ini menceritakan, awal mula dirinya tertarik mengolah pelepah pisang karena penasaran. Tekstur ‘gedebog’ pisang yang halus dan lumer, dinilai bisa dijadikan camilan kripik.

“Khan saya juga punya usaha tempe mendoan. Tempe ini saya bungkus dengan daun pisang. Terus saya kepikiran dengan pelepahnya. Coba kalau diolah bisa gak. kemudian saya coba-coba, ternyata enak,” ucapnya, Kamis (19/11/2020).

| Baca Juga:  Parcel Lebaran Isi Panci Makin Diminati
Pekerja memotong-motong pelepah pisang untuk dijadikan bahan makanan keripik. Siapa sangka, dari bahan yang terbuang bisa disulap jadi makanan gurih. (foto: linda kusuma)

Pelepah pisang yang diambil adalah pada bagian batang pohon dan batang daun. Setelah dicuci bersih, kemudian pelepah ini disisir tipis-tipis. Setelah menjadi lembaran tipis, kemudian dicampur bumbu dan digoreng.

“Semuanya serba otodidak. Saya pakai resep coba-coba. Selain itu saya juga menambahkan bumbu rahasia, agar setelah diolah, keripik ini bisa tetap crunchy dan krispi tidak melempem,” paparnya.

Kripik pelepah pisang buatan Lilik ini, sudah dipesan hingga manca negara. Seperti, Hongkong, Thailand, Singapura dan Malaysia. Meski dengan modal yang pas-pasan. Namun Lilik yakin, usaha yang dirintisnya 3 bulan lalu, bisa tetap eksis.

Usaha pembuatan kripik pelepah ini, terkendala beberapa peralatan yang belum mampu dimiliki Lilik. Salah satunya adalah spinner untuk menataskan minyak yang tertinggal pada kripik.

“Awal-awal dulu, saat saya kirim ke Singapura, ternyata kripiknya berminyak. Untungnya mereka mau menyadari, dan justru memberi saya semangat untuk lebih maju lagi. Akhirnya, saya membuat spinner sendiri sesuai dengan kemapuan saya,” jelasnya.

| Baca Juga:  Terpukul Pandemi, Fotografer Ini Malah Gratiskan Jasanya

Pekerjakan Wanita Lanjut Usia

Dalam memproduksi kripik pelepah pisang tersebut, Lilik dibantu 5 wanita yang sudah berusia lanjut. mereka bertugas untuk menyisir pelepah pisang yang nantinya siap untuk diolah.

Pekerjaan ini dinilai tidak terlalu memberatkan. Para pekerja ini hanya perlu untuk duduk saja, dan tidak perlu mengangkat yang berat-berat.

Satu kilogram kripik pelepah pisang buatan Lilik dihargai Rp 65 ribu. Sementara untuk kemasan kecil seberat 200 gram, seharga Rp 20 ribu.

Selain rasa original, Lilik juga menawarkan varian rasa lain, seperti rasa sate panggang, balado,keju, jagung bakar dan BBQ. Dari macam rasa ini, rasa Balado yang paling banyak digemari oleh pembeli.(*)

Reporter : Linda Kusuma
Editor : Yusuf Saputro