Beranda Viral Warung Impian Warga Kediri, Satu Porsi Hanya Rp 3.000

Warung Impian Warga Kediri, Satu Porsi Hanya Rp 3.000

BERBAGI
Pembeli nasi pecel di warung Mbah Boini selalu terkejut dengan murahnya harga. Untuk satu porsi nasi pecel, cukup Rp 3000 saja. (foto: linda kusuma)

AGTVnews.com – Warung makan dengan cita rasa enak namun murah tentunya jadi dambaan. Apalagi kalau murahnya kebangetan seperti warung milik Mbah Boini, di Dusun Duluran Desa Gedangsewu Kecamatan Pare Kabupaten Kediri ini.

Warung pecel khas Kediri milik Mbah Boini selalu dipenuhi pembeli. Mereka harus sedikit bersabar untuk mendapatkan satu porsi nasi pecel. Sebab yang antre lumayan panjang.

Pecel mbah Boini selalu ramai dengan pembeli karena menjual dengan harga dibawah rata-rata. Untuk satu piring pecel beserta lauknya hanya Rp 3.000 saja.

Harga itu sudah termasuk lauk tahu dan tempe serta rempeyek ciri khas dari pecel. Harga yang sama juga diberikan untuk pecel tumpang. Jika ingin menambah dengan 1 gelas teh, maka harga yang dibandrol menjadi Rp 4.000.

Beberapa pembeli menganggap harga itu sangat murah. Umumnya untuk satu piring nasi pecel maupung pecel tumpang rata-rata dihargai antara Rp 8.000 hingga Rp 10.000.

Satu diantara pembeli, Fitri mengaku kaget dengan harga yang diberikan. Dengan harga 3 ribu, nasi yang didapat juga rata-rata sama dengan nasi pecel pada umumnya. Tidak menjadi lebih sedikit.

| Baca Juga:  Mie Aceh Ponorogo Menu Pilihan Saat Berbuka Bisa Tangkal Corona

“Kaget saya, baru pertama kali ini makan nasi pecel yang sangat murah. Nasinya juga banyak, sambelnya juga pas tidak terlalu pedas. Kok ada ya nasi pecel hanya 3 ribu saja,” ucap wanita asal Kota Kediri ini.

Warung pecel Boini ini berdiri sejak 35 tahun lalu. Pada awal penjualan, harga pecel hanya dibarendol sebesar Rp 150. Puryati, penjual pecel Boini saat ini merupakan generasi kedua.

“Awalnya pecel ini didirikan oleh ibu mertua saya, mbah Boini. Kemudian saya lanjutkan ini. Resep sambel ya tetap sama. Karena sudah tua, mbah Boini hanya bantu-bantu di dapur,” ucapnya.

Warung pecel Boini buka dari pukul 4.30 wib hingga pukul 09.00 wib. Dalam sekali buka, warung ini menghabiskan beras sebanyak 70 kilogram.

“Jam 3 pagi itu sudah banyak yang antri, di rumah belakang. Kebanyakan mereka karyawan pabrik yang ada di sekitar sini,” ucap Puryati.

| Baca Juga:  Terik Menyengat, Es Tidar Teman Mengasyikkan

Warung mbah Boini mempekerjakan 5 orang yang semua masih merupakan kerabat. Mereka diantaranya anak, menantu, cucu serta keponakan. Masing-masing dari mereka memliki tugasnya, seperti membuat minum, menanak nasi dan juga menggoreng lauknya.

Setiap hari warung pecel ini tidak pernah sepi dari pembeli, bahkan saat masa pandemi. Sempat tutup tapi warung ini buka di dapur rumah mereka, dengan kapasita yang lebih sedikit. Meski demikian masih banyak saja pembeli yang datang.

“Ya sempat turun pas awal-awal pandemi kemarin. Tapi ya turunnya gak begitu banyak. Sehari masih bisa menghabiskan 60 kg beras. Gak begitu berdampak,” pungkasnya.

Bagi kalian yang penasaran, boleh kok langsung datang ke desa ini. Warungnya ada tepat di pinggir jalan raya antara Kecamatan Pare dan Plosoklaten. Tanyakan saja, pecel 3000 an, pasti banyak yang tahu.(*)

Reporter: Linda Kusuma
Editor  : Yusuf Saputro