Beranda Viral Gantengnya Kediri Ada Disini

Gantengnya Kediri Ada Disini

BERBAGI
wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar tampil ganteng memakai baju koko tenun ikat karya desainer Priyo Oktaviano. (sumber: instagram)

AGTVnews.com – Dikenal sebagai Kota Tahu, ternyata Kediri juga menyimpan pesona lain. Penduduk kota ini dikenal sangat ramah, pun termasuk pemimpinnya. Dikenal sebagai wali kota milenial, yang sangat tanggap akan perkembangan teknologi di era 4.0, Abdullah Abu Bakar muncul sebagai sosok muda yang diidolakan.

Belum lama ini, laki-laki nomor 1 di Kota Kediri ini mengunggah sebuah foto dirinya yang tampil bak model profesional. Berbalut kain tenun ikat Bandar, ditambah senyum tipis, menjadikan mas Abu sapaan akrab wali Kota Kediri ini tampil ganteng maksimal.

Tampil kece dan keren baju koko dari tenun ikat hari ini karya spesial nih dari @priyooktaviano.

piye gak kalah keren kan sama kalian? ” tulisnya.

Unggahan ini menuai banyak komentar netizen, yang mengamini jika wali Kota kegantengannya bertambah saat memakai tenun ikat.

Top masAbu sprt masih usia 17 aja…emoticon jempol,” tulis akun @erniegembong.

Gantengnya kediri,” timpal akun @warkop_abdindalem

Tenun ikat merupakan satu keistimewaan Kota Kediri. Kain tenun tidak hanya ada di daerah Nusa Tenggara dan Lombok. Ternyata di Kota Kediri pun memiliki kain istimewa ini. Tenun ikat Kota Kediri dibuat dengan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang pengoperasiannya butuh ketelatenan,

Sejarah Tenun Ikat Kota Kediri

Tenun ikat Kota Kediri sudah ada sejak masa sebelum kemerdekaan. Kain ini sudah berkembang pada abad 11-13 pada masa kerajaan Kadiri.

Dari penelitian sejarawan asal Belanda, Gerrit Pieter Rouffaer, yang melakukan penelitian kain di Indonesia mengatakan, bahwa pola gringsing atau teknik dobel ikat hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting. Alat ini sudah dikenal dan digunakan sejak abad ke-12. Pola grinsing ini juga ditemukan di tenun ikat bandar.

| Baca Juga:  Walikota Kediri Hadiri Launching Gerakan 26 Juta Masker se-Jawa Timur Secara Virtual

Mengutip dari beberapa sumber, kain tenun ikat Kota Kediri ini, juga tersimpan di museum Tropen Belanda. Disebutkan, enam kain tersebut merupakan tenun ikat Kediri dengan catatan pembuatan 1910.

Meski tidak ada catatan pasti, namun hal ini bisa menjadi fakta, bahwa memang kain tenun ikat Kediri sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu.

Perkembangan Tenun Ikat Kediri Dari Masa ke Masa

Tenun ikat di Kediri mulai berkembang diawali oleh warga keturunan Tionghoa pada tahun 1950-an. Mereka membuka usaha yang memiliki sekitar 200 alat tenun dan ratusan perajin.

Usaha tersebut terus berkembang seiring dengan berkembangnya perdagangan dengan saudagar-saudagar dari Madagaskar, China, India, Tiongkok dan Arab hingga mengalami masa jaya pada periode 1960-1970.

Namun seiring berjalanannya waktu, kejayaan tenun ikat Kediri kian surut pada tahun 1985. Ratusan alat tenun mesin muncul, menghasilkan beragam kain tenun pabrikan yang harganya lebih murah.

Kondisi ini menggerus keberadaan tenun ikat tradisional yang hanya mengandalkan tenaga manusia serta alam. Lama-kelamaan produksi tenun ikat tradisional mulai berkurang.

Namun pemerintah Kota Kediri, kini mulai kembali membangkitkan keberadaan kain tenun khas Kota Kediri ini. Berbagai macam cara dilakukan, seperti menggelar kegiatan fashion show tahunan.

Fashion show  dengan nama Dhoho Street Fashion ini menggunakan tenun ikat sebagai bahan kain. Kegiatan ini telah diikuti sejumlah desainer Kondang Indonesia. Saat pandemi Covid-19 pun, Kota Kediri sukses menggelar Doho Street fashion ke-6 secara terbatas dan virtual.

heeem ..gantengnya Kediri ada disini ya ges ?? (sumber : instagram)

Tidak hanya melalui gelaran fashion show, Wali kota Kediri juga mengeluarkan Surat Edaran terkait penggunaan kain tenun ikat untuk seragam bagi pegawai di Kota Kediri.

| Baca Juga:  Ditengah Bencana Covid 19, Kelurahan Betet Kota Kediri Jadi Nominator 4 Besar Destana Utama Tingkat Jawa Timur

Setiap hari Kamis , seluruh pegawai maupun karyawan di sejumlah kantor pemerintahan maupun swasta wajib memakai kain tenun.

Saat keterpurukan ekonomipun saat pandemi Covid-19 , Pemerintah Kota Kediri berusaha  membangkitkan tenun ikat ini, dengan cara membuat masker. Langkah ini ternyata ampuh, masker tenun nan eksotis Kota Kediri mulai banyak dicari.

Motif Tenun Ikat Kota Kediri

Tenun ikat Kota Kediri memiliki ciri khas tersendiri, motif ini dikenal dengan nama motif kadiren. Ada 7 motif utama yang dimiliki oleh Tenun Ikat Bandar Kidul  yakni, motif Ceplok (motif bunga yang tertata), motif Loong (bunga-bunga tidak beraturan), motif TirtoTirjo (seperti air bergelombang), motif Corak Garis Miring, motif Salur (polos dan motif), motif Rang Rang, dan motif Gelombang (seperti TirtoTirjo, namun lebih besar gelombangnya).

Sementara kain tenun yang dihasilkan berupa kain sarung gombyor, kain misris (biasa), semi sutra, hingga sutra.

Kini, perajin tenun ikat bukan mesin Kota Kediri tersentral di Kelurahan Bandar Kidul di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Kegiatan tidak hanya terpusat di tempat penenunan, namun dengan mengkaryakan warga sekitar.

Memang menjadi satu kebanggaan bisa menjadikan kekayaan asli daerah lebih dikenal. Tidak hanya di Indonesia namun juga di negara lain.

Dengan rasa bangga, mas Abu selalu mengenalkan tenun ikat ini dalam setiap kesempatan. Diharapkan dengan cara ini, tenun ikat Kota Kediri bisa dikenal luas, dan menjadi satu pilihan kain eksotis asli Indonesia.

Inilah kegantengan Kota Kediri, ini kegagahan tenun ikat Kediri, Kediri memang selalu dihati.(*)

Editor : Linda Kusuma