Beranda Hukum Kriminal Rayu dan Cabuli Anak-anak Di Tempat Sholat, Tokoh Agama di Blitar Mengaku...

Rayu dan Cabuli Anak-anak Di Tempat Sholat, Tokoh Agama di Blitar Mengaku Terangsang

BERBAGI
MHY saat diperiksa di unit PPA Polres Blitar Kota. (foto : ana alana)

AGTVnews.com – Tokoh agama warga Desa Kemloko Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, MHY (60 tahun) pelaku pencabulan dan persetubuhan terhadap 6 anak di bawah umur resmi ditahan. Petugas juga turut mengamankan sejumlah barang bukti.

Kapolres Blitar Kota, AKBP Yudhi Hery Setyawan mengatakan, barang bukti yang diamankan yakni sejumlah pakaian yang dikenakan korban dan juga sebuah sajadah.

“Pelaku ini beberapa kali melakukan aksi pencabulan dan persetubuhan di tempat sholat di rumahnya. Aksi bejat ini dilakukannya diatas sajadah. Tempat sholat di rumah pelaku ini dianggap sebagai tempat yang aman dan sepi,” ujar Kapolres Blitar Kota, Senin (29/3/2021).

| Baca Juga:  Pingsan di Pinggir Jalan, Nenek Penjual Telur di Blitar Dievakuasi Petugas Ber-APD Lengkap

| simak video berita terkait:

Dalam pengakuannya, pelaku ini terangsang saat melihat anak kecil. Selama ini pelaku jarang dilayani oleh istrinya.

“Aksi kejahatan seksual ini terkuak dari salah satu korban. Dia mengaku kepada keluarganya jika pernah dicabuli oleh pelaku. Dari pengakuan ini diketahui, korban tidak hanya satu anak. Bahkan adik pelapor juga pernah mengalami perlakuan yang sama saat masih TK,” beber kapolres.

Kapolres menjelaskan, dari 6 korban itu 2 diantaranya merupakan pelapor. Petugas akan terus menggali keterangan dari saksi. Dimungkinkan masih ada korban lain yang belum melapor. Perbuatan ini dilakukan sejak tahun 2017 lalu.

| Baca Juga:  Cabuli Anak Tiri hingga Lahiran, PKL di Madiun Diamankan

Pelaku ini membujuk dan merayu para korban agar mau dicabuli ataupun disetubuhi saat anak-anak berbelanja di tokonya.

Atas perbuatannya pelaku dijerat Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Perlindungan Anak (UU Perlindungan Anak) dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.(*)

Reporter : Ana Alana
Editor : Linda Kusuma