Beranda Tips Trik Cara Budidaya Ikan Lele Agar Untung Hingga 5 Kali Lipat

Cara Budidaya Ikan Lele Agar Untung Hingga 5 Kali Lipat

BERBAGI
kolam permanen untuk lele
Kolam permanen tembok untuk budidaya benih lele. Kolam tembok memungkinkan air kolam tidak berubah secara drastis. (foto: yusuf saputro)

AGTVnews.com – Budidaya ikan lele bisa dibilang gampang-gampang susah. Dibilang gampang kalau sudah menguasai ilmunya. Akan terasa susah bahkan berujung kegagalan bila minim ilmu.

Budidaya ikan lele umumnya dibagi 2 segmen yang terpisah. Yakni segmen budidaya benih lele dan segmen pembesaran. Masing-masing segmen biasanya dikerjakan oleh orang berbeda.

Para pembudidaya di segmen pembesaran ikan lele memilih beli benih kepada pembudidaya benih lele. Mereka tidak memeliharanya sendiri. Sebab budidaya benih lele butuh ketelitian dan fokus yang tinggi.

Tulisan ini akan memaparkan cara budidaya ikan lele di segmen pembenihan. Dimana segmen ini paling menarik dibahas. Disebut menarik karena budidaya benih ikan lele berpotensi untung hingga 5 kali lipat dari modal. Dalam waktu 40 hari saja.

Hitungan sederhananya: bila panen benih lele sebanyak 100.000 ekor dengan harga Rp 150 per ekor maka hasilnya Rp 15.000.000. Berapa biaya (modal) budidaya benih lele sebanyak 100.000 ekor? Jawabnya: tidak sampai Rp 3.000.000.

Untuk bisa mencapai keuntungan 5 kali lipat, beberapa komponen produksi benih lele harus diperhatikan. Mari kita bahas satu persatu.

1. Kolam untuk Budidaya

Budidaya benih ikan lele dapat dilakukan di kolam terpal, beton, atau tanah. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Budidaya ikan lele di terpal bisa menghemat pengeluaran di awal. Modalnya tidak terlalu besar. Cara pengerjaannya pun sangat mudah. Bisa pesan beragam model dan langsung bisa dipasang. Dalam hitungan hari kolam bisa digunakan.

| simak video berita terkait:

Kolam terpal bisa berdinding tanah atau batako. Bisa juga berdinding besi beton (wire mesh). Sebagai perkiraan, harga kolam bundar berdinding besi beton wire mesh diameter 2 meter fullset, seharga Rp 480 ribu. Terpal sudah memakai merk orchid yang tebal dan tahan hingga 5 tahun.

| Baca Juga:  Semarakkan Hari Kemerdekaan ke-74, PT Kai Gratiskan Tiket Kereta Lokal

Bila memiliki modal yang cukup, sebaiknya menggunakan kolam tembok yang permanen. Budidaya benih ikan lele di kolam tembok lebih menjanjikan keberhasilan. Alasannya sederhana: suhu air di kolam tembok lebih stabil.

Ukuran kotak kolam benih lele umumnya tidak lebih dari 10 meter persegi. Kombinasi 2 x 5 meter atau 3 x 3 meter. Bila berbentuk bundar, maka diameter maksimal adalah 3 meter.

Makin besar ukuran kolam, makin banyak ikan yang bisa ditampung. Namun juga memiliki resiko yang lebih besar.

Untuk bisa berpeluang menghasilkan untung 5 kali lipat, maka dibutuhkan sedikitnya 4 kolam baik berbentuk kotak ataupun bundar.

2. Indukan Ikan Lele Berkualitas

Salah satu penentu keberhasilan budidaya ikan lele adalah tersedianya induk yang berkualitas. Induk ikan lele yang bersifat unggul akan menghasilkan benih ikan lele yang unggul pula.

Banyak pembenih ikan melakukan pemijahan dengan menggunakan induk yang tidak jelas asal usulnya. Sehingga dimungkinkan terjadinya perkawinan sekerabat (Inbreeding).

Indukan betina ikan lele yang sudah siap dipijahkan. Ciri indukan bertubuh bongsor dengan tekstur lembek bila dipegang. (foto: yusuf saputro)

Perkawinan sekerabat beresiko menuruni sifat resesif (negatif) dari induknya yang bersifat merusak kualitas benih. Diantaranya pertumbuhan benih yang lambat serta rentan terhadap serangan penyakit.

Ada 6 jenis induk lele yang populer di Indonesia. yakni Dumbo, Sangkuriang, Phyton atau Paiton, Masamo, Mutiara dan Mandalika. Enam jenis induk ini sama-sama berkualitas.

Lele jenis Mutiara saat ini paling populer. Lele Mutiara dihasilkan oleh para peneliti di Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat pada akhir 2014.

Lele Mutiara merupakan hasil persilangan dari varietas lele Mesir, Paiton, Sangkuriang dan Dumbo yang diseleksi selama tiga generasi pada karakter pertumbuhan.

Lele jenis Mutiara memiliki pertumbuhan yang lebih cepat, ukuran seragam, toleransi terhadap lingkungan dan daya tahan terhadap penyakit juga tinggi. Setiap kilogram berat betina, berpotensi menghasilkan telur sampai 100.000 butir.

| Baca Juga:  5 Fakta Kerusuhan Persikmania vs Brajamusti, Mulai Perang Batu hingga Bom Molotov

3. Teknik Budidaya yang Benar

Bila kolam dan indukan sudah siap, maka faktor lain penentu keberhasilan budidaya ikan lele adalah teknik budidaya yang benar. Tidak ada pedoman baku dalam budidaya lele. Masing-masing daerah, bahkan masing-masing pembudidaya memiliki teknik sendiri-sendiri.

Namun bila diringkas, hal yang menjadi penentu adalah pengelolaan air sebagai media tumbuh ikan. Ada pembudidaya yang menyukai air jernih dengan sistem sirkulasi terus menerus. Namun ada juga yang menggunakan air hijau dimana air hanya diganti sebagian saja.

Dalam hal ini pembudidaya dituntut untuk jeli mengamati tumbuh kembangnya benih ikan. Selain asupan pakan yang tepat, grading yang teratur dan pencegahan munculnya penyakit harus diperhatikan.

4. Peruntungan atau Nasib Baik

Faktor keberuntungan dan nasib baik juga menjadi penentu keberhasilan budidaya benih lele. Mengapa demikian? Sebab harga benih lele di pembudidaya berfluktuasi.

Umumnya harga benih ikan lele dipatok diukuran 5 centimeter. Harga terendah bisa di angka Rp 50 per ekor. Harga tertinggi bisa tembus Rp 200 per ekor.

Fluktuasi harga ini dipengaruhi pasokan serta tingkat kebutuhan pasar benih. Di bulan-bulan tertentu pembudidaya lele konsumsi banyak menebar benih di kolam pembesaran. Saat itu biasanya harga benih lele bisa tarik.

Dengan jumlah modal yang sama, bila pembudidaya ikan lele panen saat harga bagus, maka modalnya bisa berlipat-lipat. Bisa 5 kali atau bahkan 7 kali lipat.

Saat harga stabil di angka sekitar Rp 100 per ekor, modal masih bisa berlipat sampai 3 kali. Cukup menggiurkan.

Editor: Linda Kusuma