Beranda Tips Trik Mitos Seputar Budidaya Lele, Mulai Godaan Wanita Hingga Kerukunan Rumah Tangga

Mitos Seputar Budidaya Lele, Mulai Godaan Wanita Hingga Kerukunan Rumah Tangga

BERBAGI
Beragam mitos melingkupi budidaya lele. Pembudidaya pun sebagian mempercayai mitos tersebut. (ilustrasi: bayu eka)

AGTVnews.com – Ikan lele salah satu ikan air tawar yang digemari masyarakat Indonesia. Rasanya yang gurih dengan harga murah membuat ikan berkumis ini kerap jadi pilihan.

Karena permintaan yang tinggi, maka budidaya ikan lele, baik itu segmen pembenihan maupun segmen pembesaran, juga banyak digeluti masyarakat. Sebagai bisnis, budidaya ikan lele cukup menjanjikan untung berlipat.

Dibalik untung yang menggiurkan, ternyata budidaya lele tak lepas dari beragam mitos. Sebagian pembudidaya percaya kebenaran cerita turun temurun tersebut. Terlebih pembudidaya yang tinggal di wilayah yang memegang adat istiadat.

Salah satu mitos paling populer di kalangan pembudidaya lele adalah kewajiban menjaga kerukunan rumah tangga. Konon, ikan lele yang mendengar suara pertengkaran rumah tangga sang pemilik akan ikut stres dan mati.

| simak video berita terkait:

Benarkah mitos tersebut? Adakah penjelasan ilmiahnya? Tulisan berikut akan merangkum beragam mitos di seputar budidaya lele.

1. Pemijahan dan Hari Tebar Benih Sesuai Primbon

Budidaya ikan lele juga tidak lepas dari primbon penanggalan Jawa. Dimana ada keyakinan perihal hari baik dan hari buruk.

Mengawali budidaya di hari yang baik, sesuai primbon, diyakini bisa membawa keberhasilan.

Bagi penganut mitos ini, setiap hari mulai Senin hingga Minggu memiliki wataknya masing-masing. Senin dianggap hari yang bagus karena bersifat dingin. Hari Jumat dianggap hari yang pendek sehingga tidak cocok untuk mengawali usaha.

Hari di penanggalan umum masih harus dikombinasikan dengan pasaran Jawa agar hasilnya maksimal. Apapun hari yang Anda pilih, awali usaha dengan niat sungguh-sungguh untuk meraih rejeki dari Sang Pencipta.

2. Uang Hasil Budidaya Lele Licin, Mudah habis

Budiaya ikan lele memang menjanjikan keuntungan yang berlipat. Bahkan untuk segmen pembenihan, keuntungan bisa mencapai 5 kali lipat dari modal dalam waktu singkat.

| Baca Juga:  Sakit Hati Diselingkuhi dan Digugat Cerai Istri, Suami di Ponorogo Hancurkan Rumah Mewah Mereka

Tidak heran bila para pembenih ikan lele bisa meraup uang puluhan juta Rupiah sekali periode budidaya.

Induk betina lele siap pijah. Bertubuh bongsor dan gerakan lambat. (foto: yusuf saputro)

Meskipun sudah panen dengan hasil puluhan juta Rupiah, konon uang hasil budidaya lele susah untuk disimpan. Ada mitos di kalangan pembudidaya lele bahwa uangnya licin sehingga mudah “lepas”.

Mitos uang lele licin ini lebih ramai diperbincangkan di kalangan tengkulak. Sudah jadi rahasia umum, tengkulak benih lele bisa menikmati untung gede dari bisnis ini. Mereka menikmati selisih harga yang tinggi saat menjual ke petani pembesaran. Belum lagi yang mau main curang dengan mengakali timbangan dan ukuran ikan.

Bisa mendapatkan uang banyak dengan mudah, godaan pun muncul di depan mata. Termasuk godaan dari perempuan di rumah-rumah hiburan.

3. Saat Pemijahan, Pemilik Juga Harus Berhubungan Badan

Bagi pembudidaya benih lele, saat pemijahan merupakan waktu yang mendebarkan. Induk yang sudah disiapkan berbulan-bulan ditunggu hasilnya dalam semalam.

Proses pemijahan lele secara alami berlangsung dengan cara jantan menekuk tubuh betina untuk mengeluarkan telur. Pada saat bersamaan, pejantan mengeluarkan sperma untuk membuahi telur yang keluar.

Proses ini umumnya berlangsung malam hari. Mulai pukul 10 hingga dini hari. Ikan lele yang sedang dipijah akan menimbulkan suara gaduh.

Mitos di kalangan pembudidaya benih ikan lele, proses pemijahan itu wajib dibarengi dengan “pemijahan” sang pemilik. Makin seru hubungan suami istri sang pembudidaya, makin bagus buat keberhasilan pemijahan lele.

Mitos nyleneh ini berkembang subur di kalangan pembudidaya benih lele. Entah beneran atau hanya modus bapak-bapak untuk meminta jatah ke istri. Kalau mitos ini benar, bagaimana kalau sang pembudidaya masih bujangan?

| Baca Juga:  Padi Raksasa Setinggi 2 Meter Hasilkan Produksi Berlipat

4. Pertengkaran Suami Istri Membuat Lele Stres

Budidaya lele sangat cocok untuk jadi penghasilan tambahan rumah tangga. Dengan pekerjaan yang tidak berat, budidaya lele bisa dikerjakan disela-sela pekerjaan lain.

Meskipun hanya menjadi pekerjaan sampingan, budidaya lele menuntut fokus dan ketelitian. Utamanya dalam hal manajemen air.

Mitos paling populer di kalangan pembudidaya lele adalah soal tuntutan rukun berumah tangga. Pasangan suami istri yang budidaya ikan lele tidak dibolehkan bertengkar yang suaranya sampai terdengar ikan.

Proses grading benih lele dengan mensortir ikan sesuai ukuran. Tujuan grading agar pertumbuhan rancak. Kegiatan grading membutuhkan fokus dan ketelitian. (foto: yusuf saputro)

Suara pertengkaran suami istri, konon, bisa membuat lele ikut stres sehingga berakibat kematian massal.

Pertengkaran suami istri memang tidak baik. Sebab pertengkaran tidak menyelesaikan persoalan. Saat suami istri bertengkar, maka fokusnya pun terganggu. Ketelitian dan etos kerja pun bakal menurun.

Kemungkinan karena masalah fokus dan ketelitian yang menurun inilah yang menjadi sebab ikan lele kurang perhatian. Saat ada penyakit menyerang, tanda-tanda awal tidak teramati. Sekalinya ketahuan sakit sudah parah dan massal.

5. Lele Makan Sertifikat dan BPKB

Bagi pembudidaya ikan lele, kebutuhan modal sangatlah utama. Terlebih untuk segmen pembesaran. Modalnya gede banget. Apalagi untuk pembudidaya yang mengandalkan pakan pabrikan.

Di kalangan pembudidaya benih lele, pun butuh modal. Saat budidaya gagal, bukan menyurutkan langkah justru sebaliknya tertantang untuk mencoba kembali. Sepanjang kolam dan indukan masih ada, wajib terus mencoba.

Pemenuhan modal yang paling mudah adalah kredit bank dengan jaminan sertifikat tanah atau BPKB motor. Saat panen, maka jaminan bisa dikeluarkan. Namun bila kembali gagal, maka tak heran bila sertifikat dan BPKB “dimakan” lele.

Editor: Linda Kusuma